Data Digital Seluruh Dunia….

•Juli 22, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sepasang Sepatu

•Mei 29, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sepasang Sepatu..

Tak seperti biasanya, hari itu ada dua buah mobil berpelat L terparkir di depan masjid itu. Masjid Asy Syahiid, satu-satunya masjid jami’ di desa Glonggong.

Sebuah merek mobil jepang terbaca oleh Sunarto, seorang petani yang tinggal di depan masjid. Ia memang tak begitu paham akan mobil, tapi menurutnya mobil seperti itu, tentulah mahal. Bodynya yang mengkilat dan ukurannya yang lumayan tambun, menandakan itu bukan mobil-mobil yang biasa ditumpanginya ke pasar kota. Maklum, di desa Glonggong, ini satu-satunya yang punya mobil, hanyalah Pak Sony, seorang pedagang di pasar kota, dan itupun hanya sebuah pick up tua tahun 90an.

Tak banyak yang menumpang mobil itu, begitu menurut perkiraan Sunarno, yang ia hitung hanya ada sekitar 6 orang. Dan itupun kesemuanya laki-laki. Namun tunggu dulu, dari satu mobil, keluar dua orang wanita, berjilbab dan berbaju panjang, begitu yang ia lihat. Jadi total ada 8 orang yang ia hitung. Kedua wanita tadi ia lihat langsung ke atas, yang memang merupakan tempat buat ibu-ibu dan wanita..

Sunarno tak berani mendekat. Baginya, orang-orang asing itu seolah seperti orang-orang dari planet luar seperti yang sering dilihatnya di TV. Ia hanya melihat dari teras rumahnya. Waktu masih belum masuk Dhuhur, masih jam 10an siang, orang-orang itu terlihat beristirahat di depan masjid. Jam-jam segini, pintu masjid memang sering terkunci.

“Mereka siapa pak..??” seseorang menyapanya dari belakang. Istri Sunarno rupanya.
“Nggak tahu bu, orang kota sepertinya., bapak juga baru kali ini ngelihat mereka”, jawab Sunarno.
“Ya mbok coba dilihat kesono, kenalan atau apa lah..!!”
“Ibu aja deh.. biasanya sesama ibu-ibu kan bisa lebih akrab, tadi bapak lihat ada 2 orang yang naik ke atas.”
“Wis, bapak ini, disuruh istrinya, malah balik nyuruh, “ tukas istrinya sambil melengos kembali ke dalam rumah

***
Sudah jam 12 siang, dan dari menara masjid terdengar Sarto, muadzin masjid, mengumandangkan adzan dengan suaranya kecilnya. Sunarno, tak lekang lantas masuk, ia segera berwudhu, ganti baju, mengenakan sarung , lantas menyambar sajadah di kamarnya.
“Bu, bapak berangkat duluan ya..!!! jangan lupa ntar kunci pintunya..!!”, teriak sunarno sambil berangkat pergi.
Dilihatnya keenam orang tadi berada di tempat wudhu, 3 diantaranya masih berwudhu, sambil sementara sisanya masih menggunakan sandal jepit, antri. Sunarno segera beranjak masuk, sholat tahiyyatul masjid, lalu menunggu sang imam.
***
Sholat sudah selesai, namun dilihatnya keenam orang tadi masih belum keluar. Padahal setahu Sunarno, pintu dalam masjid akan dikunci beberapa saat lagi. Sunarno tidak terlalu peduli, ia pun segera beranjak pulang ke rumahnya.

Di gerbang masjid, sempat dilihatnya pak Haji Imron, imam masjid desa sempat bercakap-cakap sebentar dengan salah satu dari mereka. Sunarno tak tahu apa yang mereka bicarakan.

“Mereka siapa pak Haji..??” tanya sunarno pada Pak Haji, yang lewat depan rumahnya.
“Orang kota.” Jawab pak Haji pendek.
“Ngapain..??” tanya sunarno antusias
“Nggak, katanya mereka lagi mau bikin tower buat apaan tuh, HP di ujung desa kita. Katanya mereka sudah beli, dan mau lihat-lihat.” jelas Pak Haji.
“Ooohh..” sunarno hanya manggut-manggut. Ia memang boleh dibilang orang desa yang gaptek. Meski tahu apa yang namanya handphone, tapi seumur-umur dia belum pernah memegangnya langsung. Sunarno masih penasaran, namun ia masih terlalu takut dan malu untuk bicara pada orang-orang asing tersebut.
Sekali lagi ia hanya melihatnya dari jauh, melamun.
“Orang kota kok Pak, mereka cuman mau istilahnya apaan, survey kalo nggak salah, tanah milik Pak Mahmud di ujung desa itu, katanya mau bikin tower atau apaan lah istilahnya..”, suara istri Sunarno, membuyarkan lamunannya.
“Eh, oh iya”, jawab Sunarno setengah tergagap.”Tadi pak Haji juga bilang begitu, katanya tower buat handphone kalo nggak salah.”, Sunarno membenahi duduknya.
“Tadi aku sempat ngomong ma dua orang diatas tadi, mereka ternyata ibu ma anaknya. Yang anaknya masih muda loh pak, paling masih dua puluhan, tu istri salah satu dari orang-orang itu tuh..”, ujar istrinya sambil meletakkan segelas teh ke meja bapaknya.
“Ngobrol apa aja tadi bu..??” tanya Sunarno sambil menyeruput tehnya.
“Bukan Ibu yang ngobrol, tapi Bu haji, Ibu cuman nguping doang kok. he..he..he.., eh Ya, Sarmin mana Pak, biasanya jam segini tuh anak sudah pulang.”, Tanya istri Sunarno
“Biasa, paling ke rumahnya Aji, putranya Pak Sony, main PS disono”, tukas Sunarno tak acuh, baginya orang-orang kota itu, saat ini jauh lebih menarik daripada mengurusi Sarmin, putra semata wayangnya yang memang hobi dolan.
***
Sudah sejam lalu kedua mobil itu pergi. Meninggalkan debu-debu yang berterbangan didepan jalan Rumah Sunarno. Debu-debu dari jalan makadam yang kering. Debu-debu jalan akibat mobil tadi masih lekat dimata Sunarno, atau memang karena musim kemarau yang sudah tiba sebelum waktunya. Kondisi jalan desa yang masih berbatu-batu dan makadam yang membuatnya makin kering dan berdebu. Kemarau membuat rumput dan ilalang di sekitarnya kuning kecoklatan, menyisakan akar-akarnya yang masih hidup menunggu tetesan hujan.

Entahlah, kapan pula jalan didesanya akan diaspal. Tahun 2004 lalu, sempat terbersit kabar, jika ada satu partai yang menang dalam Pemilu di desanya, maka jalan desanya akan diaspal. Partai tersebut memang akhirnya menang, namun realisasi peng-aspalan jalan tak pernah terwujud. Dan warga desa perlahan melupakannya. Namun terbersit dalam hati Sunarno dan warga desa lain, mereka bertekad takkan memilih partai-partai semacam itu. Partai-partai yang biasanya hanya mengandalkan tokoh, dan bukan akhlak orang-orangnya.

Waktu sudah masuk Maghrib, dan satu demi satu warga kampung perlahan berduyun-duyun mendatangi satu-satunya masjid di kampungnya. Tak lupa beberapa anak kecil seusia Sarmin, berlari-lari membawa tas kecil, berkejar-kejaran, ya, dalam tas itu ada juz amma atau iqro’. Anak-anak seusia mereka biasanya akan ngaji selepas sholat maghrib hingga usai. Saat-saat dimana banyak anak kota justru melengos dan pergi menonton kartun kesayangan mereka, sponge bob, atau apalah, Sunarno juga kurang paham. Di desanya tak banyak channel TV yang tertangkap, ditambah lagi ia pun memang jarang nonton televisi.
***
Sholat maghrib telah usai, dan para jamaah pun sedikit demi sedikit mulai berlalu. Anak-anak kecil masih berkejar-kejaran di depan masjid hingga akhirnya salah satu dari mereka berteriak memanggil. Dan anak-anak kecil itupun bergegas masuk kedalam, mengaji. Dan seperti biasa, Sunarno menghabiskan waktunya diteras masjid. Entah ada saja yang ia lakukan. Terkadang mengamati anak-anak itu mengaji, sekedar melamun lepas, atau hanya ngobrol bersama pak Haji.

Kali ini Sunarno memilih melamun, ia mengeluarkan sebatang kretek lantas menyalakannya. Ia menoleh kesana-sini, coba mencari bahan lamunannya kali ini. Dan pandangannya pun langsung tertuju ke sudut utara masjid. Ada sesuatu menarik disana.. Tak seperti biasa, Sunarno melihat sepatu itu. Sebuah sepatu kulit warna coklat gelap mengkilap. Sepatu dengan tali yang tak lagi terikat rapi. Baginya sepatu itu terlihat asing. Sepatu yang umum di benak Sunarno hanyalah sepatu kets, dari kain dan terkadang dengan warna-warna yang enak di mata. Merah, biru, kuning, seperti yang biasa dikenakan Sarmin dan teman-temannya. Ditambah lagi, baginya sungguh aneh jika ada warga desanya yang bersepatu ke Masjid. Biasanya sebuah sandal jepit, atau sandal kayu yang lain sudah cukup untuk melalui jalan berdebu yang sering becek di musim hujan.

“Gimana sawahmu No..??”, pak Haji membuyarkan lamunannya.
Setengah terkejut sunarno menjawab, “Eh, Alhamdulillah pak Haji, insya Allah bulan depan mau panen.”, Sunarno menghisap rokokny dalam-dalam. “Kalau sawahnya Pak Haji..??”, Sunarno balik bertanya.
“Oh, ya begitulah, sejak diurus anakku itu, hasilnya jadi gila-gilaan. Kapan-kapan, kamu sama warga desa lain cobalah untuk belajar ke dia. Lumayan loh No, dulu kalau jagung, Aku cuman dapat 10 karung, tapi sejak anakku yang ngurus, eh, jadi 15 karung. Nggak tahu pakai ilmu apa anak itu, katanya belajar dari temannya yang kuliah di kota.” Jelas Pak Haji. Sunarno hanya manggut-manggut mengerti. Tapi Sunarno masih penasaran dengan sepatu tadi, ia ingin menanyakan sepatu itu, tapi Sunarno memang orang yang terlalu pemalu untuk bertanya.
Akhirnya, setengah memberanikan diri, Sunarno bertanya. “Eh Pak Haji, Pak Haji kalau ke Masjid pernah pakai sepatu nggak…??”
“Nggak tuh,” jawab Pak Haji setengah heran dengan pertanyaan Sunarno. “ emang kenapa No…??”
“Oh nggak, kirain sepatu itu punya Pak Haji “ tukas Sunarno sambil menunjuk sepatu coklat gelap mengkilat di ujung masjid.
“Oh itu, paling punya si Dadang, dia kan sekolah di kota,” jawab pak haji singkat.
“Ooohh..” Sunarno hanya manggut-manggut, dan rasa penasarannya pun terpenuhi. Sepatu itu tak lagi menarik bagi bahan lamunannya. Dia pun bangkit pulang pamit dulu ke Pak Haji. “Sebentar pak haji, saya masih ada urusan sama istri, saya pamit dulu Pak Haji..” Sunarno membuang rokoknya yang masih setengah hisapan, “Assalammu’alaikum..!!”
“Wa’alaikumsalam.. “, jawab Pak Haji.
***
Rasa penasaran Sunarno memang sudah terpenuhi. Namun dhuhur ini, agaknya rasa penasarannya mulai terusik. Sepatu itu datang lagi di Masjid. Hal yang aneh baginya. Jam segini tentulah si Dadang belum pulang dari sekolahnya di kota. Bahkan saat Ashar pun, belum tentu Si Dadang sudah pulang. Hal yang lebih mengganggunya lagi adalah, tak ada seseorang pun di masjid selain Sarto, si muadzin, dan dirinya.

Tapi kali ini bukan sepatu si Sarto, Sunarno hafal betul kalau Sarto selalu memakai sandal jepit warna merah. Selalu warna merah, sampai-sampai Sunarno sendiri heran, “Kamu nggak pernah ganti Sandal To..??:” tanyanya suatu hari,
“Ya ganti dong, pak, cuman saya memang selalu beli yang merah, habis… saya suka sih..!!”, begitulah jawab Sarto ringan. Hingga karena itu pun, Sarto dijuluki muadzin sandal abang. Bahkan pernah suatu waktu Sarto ini memilih untuk bertelanjang kaki ke masjid hanya gara-gara sandal merahnya tiba-tiba hilang. Dan Sunarno pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Sarto cuci kaki di halaman masjid.

Sunarno gundah, ia gelisah tak menentu. Sepatu itu masih tetap disitu. Teronggok mungil, seolah tak berdaya, tak terjamah oleh siapapun dari jamaah masjid tersebut. Barangkali berbeda dengan masjid-masjid di kota yang sering kehilangan sandal, atau sepatu semacam itu. Namun tidak untuk desa seukuran desa Sunarno ini.

Selepas dhuhur, sepatu itu masih disitu. Tetap seperti sebelumnya, di sudut utara masjid. Dekat tempat wudhu. Sama seperti hari-hari sebelumnya, agaknya tak ada yang memperdulikan sepatu itu kecuali Sunarno. Hal ini kontan menjadi semacam keasyikan yang membebani Sunarno. Sepatu itu seolah memanggil dirinya, menunggu untuk diambil atau disentuh. Namun Sunarno tetap tak berani menyentuhnya, mendekati saja ia tak berani. Semenarik apa pun sepatu itu, ia tetap hal asing bagi Sunarno.

Di rumahnya, di masjid, atau di sawah, sepatu itu, tetap terus membayangi benak Sunarno.
“Mikirin apa sih Pak, belakangan Bapak kok kelihatan aneh..??”, tanya istri Sunarno suatu waktu.
Buyar lamunan sunarno, ia tergagap, “Ah, eh nggak kok Bu,” Sunarno coba berkilah, namun ia tidak punya alasan.
“Apa masalah yang kemarin itu, orang kota yang mau bikin tower di desa kita..??”,
“Orang kota..”, oh ya, orang kota, Sunarno tiba-tiba ingat akan satu hal yang teralihkan hanya gara-gara sepatu itu.
“Bisa jadi, sepatu itu milik orang kota tadi…” demikian pikir Sunarno dalam hati.
Dan sekarang, hati Sunarno pun kembali tenang. Namun tak urung, ia masih bingung, kenapa pula sepatu itu sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Andaikan tidak sengaja tertinggal, tentulah tidak mungkin, karena apa mungkin si pemiliknya lupa kalau ia tidak beralas kaki..???, dan ditambah lagi bahwa ketika orang-orang kota itu berangkat, tidak ada orang lain di Masjid itu selain mereka. Adanya sepatu itu, tentu seharusnya kelihatan.

Bingung, dan Gundah sunarno yang mulai berkurang, namun rasa ingin tahunya kembali muncul. Ia pun memutuskan untuk membagi ceritanya. Namun ia tak ingin sembarangan, maka ia pun memutuskan untuk memberitahu hal ini pada satu-satunya orang yang berbicara langsung dengan orang kota itu. Barangkali saja ia tahu.
***
“…Begitulah pak Haji.” Sunarno mengakhiri ceritanya. Sarto
“Jadi menurutmu, kedua sepatu itu milik orang kota kemarin itu….??, bukan milik si Dadang..??”, tanya Pak Haji.
“Betul Pak haji, siapa lagi kalau bukan mereka..??” Sunarno menyimpulkan.
“Ya, udah terus masalahnya gimana kita mengembalikannya. Bukannya begitu..??”, tanya Pak Haji memperjelas.
“Eh, oh, iya… betul pak haji..!!, barangkali aja Pak Haji tahu, kan kemarin sempat ngobrol sama mereka..??” jawab Sunarno setengah tergugup. Ia setuju dengan usul pak Haji, namun dalam hati ia sayang juga. Sepatu itu telah menemani lamunannya dalam beberapa pekan belakangan.
***
Maka jadilah sepatu kota itu, kini mendapat perhatian lebih bagi orang-orang jamaah masjid. Jika sebelumnya jamaah bersikap tak acuh terhadapa sepatu itu, kini mereka bertanya-tanya, siapa, dan kenapa, sepatu itu ditinggalkan di masjid oleh pemiliknya.

Pak Mahmud, pemilik tanah yang tanahnya mau dibeli orang kota kemarin tak bisa dihubungi. Pak Mahmud memang juga orang kota, dan terlebih lagi, ia tinggal di Jakarta. Sehari semalam perjalanan dari desa ini. Tanah itu hanya tanah miliknya, dan memang tidak ditempati. Oleh pak Mahmud, tanah itu dititipkan pada mbah Mo, seorang duda tanpa anak, untuk diurus dan ditanami. Namun mbah Mo juga tak tahu bagaimana menghubungi Pak Mahmud, karena hanya setahun sekali Pak Mahmud menjenguk tanahnya.

Dan sepatu itupun semakin menjadi pembicaraan sengit. Pak Haji, Sarto, dan Sunarno pun sering menanyakan pada warga, barangkali ada yang kenal dengan orang-orang kota kemarin. Namun hasilnya nihil. Tak banyak yang tahu tentang orang-orang misterius kemarin. Sepatu dan orang kota kemarin mau tak mau telah menjadi kehebohan tersendiri di desa Glonggong.

Pak Haji akhirnya memutuskan, untuk meletakkan sepatu itu, di dekat kotak amal masjid. Namun dengan tambahan sebuah tulisan didekatnya. “Dicari, pemilik Sepatu ini, orang kota yang mampir di Masjid ini pada awal Mei 2006”
Sepatu itu semakin santer, bahkan mengalahkan isu pilkades di desa Sunarno. Ia jadi pembicaraan entah di sawah, di warung kopi, bahkan di pasar desa Glonggong. Namun tak urung, seperti halnya kabar-kabar lain, perlahan tapi pasti kabar tetang sepatu kota ini pun perlahan mulai berkurang. Tak seperti sebelumnya, warga pun mulai lupa dan larut dengan kesibukannya masing-masing.
Tapi hal itu tak berlaku bagi seorang Sunarno. Baginya, sepatu itu tetap asing, dan setiap hal asing selalu menarik perhatiannya, sampai kapanpun!!
***
Sudah hampir dua bulan sejak sepatu itu datang di desa Glonggong. Dan maghrib itu, seperti biasa, selepas sholat berjamaah, Sunarno duduk-duduk di teras masjid bersama Pak haji dan si Sarto muadzin masjid. Sepatu itu tetap masih teronggok disudut masjid. Tidak seberapa mengkilat seperti dulu ketika sepatu tersebut menimbulkan kebingungan sunarno. Tetap masih seperti yang dulu hanya agak sedikit berdebu. Dan sekarang dengan sebuah tulisan kecil, “Dicari, pemilik Sepatu ini, orang kota yang mampir di Masjid ini pada awal Mei 2006”. Sunarno hanya tersenyum. Bukan oleh tulisan itu, melainkan oleh kehebohan yang sempat ditimbulkan sepatu itu di desanya.

Sunarno menghisap kreteknya dalam-dalam. Di sebelahnya Pak haji tengah ngobrol dengan Sarto. Sunarno tak banyak ambil peduli, ia memang jarang berinteraksi dengan orang lain. Baginya, diam adalah hobinya. Pandangan Sunarno lepas lagi ke jalan makadam desa itu.

Namun tiba-tiba, pandangan Sunarno segera teralihkan pada sekerumunan anak kecil di sudut masjid. Mereka anak-anak yang seharusnya mengaji, tapi si Dadang, guru mengaji mereka belum lagi datang. Sunarno belum lagi sadar dari lamunannya ketika sepintas seorang anak tampak memegang sebuah benda hitam ditangannya. Dalam sekejap pikiran Sunarno kembali utuh. Sesuatu mengusik kesadarannya… Spontan ia bangkit berdiri, dan berteriak, “Hoi, nak, Jangan buat main-main..!!, itu sepatu mahal..!!”, bentak Sunarno pada anak-anak

Anak-anak yang sejak tadi mengerumuni sepatu itu, kontan semburat lari semuanya. Terkejut, takut, dengan suara keras sunarno. Sepatu dari salah seorang anak, kontan terjatuh. Pak Haji yang sedang ngobrol dengan sarto pun tak urung menoleh kaget ke arah datangnya teriakan tadi. Sarto bangkit dari duduknya ingin tahu. Pak Haji hanya diam mengamati.
Sunarno menghampiri, setengah gemetar ia memungut sepatu itu. Ini pertama kalinya ia memegang sepatu asing tersebut. Namun… Hei, tunggu dulu..!! ada apa itu..???
Sunarno melihat secarik kertas tersembul dari dalam sepatu. Penasaran ia memungut kertas itu.
Setengah berdebar, ia perlahan membuka dan membaca isinya.
“Apa No, isinya..??”, tanya Pak Haji.
Sunarno hanya diam, ia pun menyerahkan secarik kertas itu pada Pak Haji.

Assalammu’alaikum. Wr. Wb.
Pak, kami mohonmaaf, karena 3 dari sandal jepit yang ada di masjid ini, putus gara-gara kaki saya yang memang kelewat besar
Kami sebenarnya ingin menggantinya dengan uang, namun sayangnya tidak ada dari kami yang sedang membawa uang tunai.apalagi kami juga sangat terburu-buru sehingga tidak sempat untuk mampir minta maaf, atau memberitahu.
Sebagai gantinya, semoga sepatu ini bermanfaat dengan harapan ada dari warga yangmau membeli sepatu ini, agar uangnya bisa dibelikan sandal jepit baru lagi.atau apa sajalah
Terimakasih, maaf sebelumnya
Wassalammu’alaikum wr. Wb.

“Orang kota yang aneh, ternyata masih ada ya, orang yang bertanggung jawab seperti mereka.”, gumam Pak Haji pelan., “Gimana Narno, kamu mau beli sepatu ini..??”, tanya pak Haji pada Sunarno.
Sunarno hanya mengangguk pelan, dalam hati ia tersenyum.

Malang, Juli 2006
Juara I Lomba Menulis Cerpen,
PENSIMABA
Pekan Seni Mahasiswa Baru 2006
FMIPA Universitas Brawijaya

(gara2 yang setor cerpen cuman 3 hehehe)

Tiga Pertanyaan Kehidupan – Cerpen

•Mei 29, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tiga Pertanyaan Kehidupan

Sudah 12 bulan, 2 minggu dan 3 hari kami berada disini
(aku catat betul hari-hariku dalam diaryku). Di negeri
yang bukan milik kami. Dan kerinduan mulai menjalar
diantara kami. Koneksi gratis internet untuk berkirim
surat maupun bertelepon ria ke Amerika, tak banyak
mengobati keinginan kami, divisi ke V Airborne kompi
A, untuk pulang. Pulang ke negeri dimana kami bisa
minum Bir sepuasnya, memanggang babi dari peternakan,
mengendarai Porsche menarik gadis-gadis di tepi jalan
yang kuyakini bukan gadis lagi, bermain Frisbies dalam
hembusan angin Florida, atau mengendap-ngendap dan
mengamati dari kejauhan, Area51, sebuah area paling
terlarang di negeri kami.

Namun disini, di negeri dimana orang menyebutnya
negeri 1001 malam (aku hanya pernah membaca ceritanya
tentang Aladin dan Ali Baba saja, itupun ketika masih
di Primary School), tak banyak yang kami lakukan.
Berbeda dengan beberapa GI lainnya di daerah Green
Zone, kami di ladang peluru Fallujah ini tak banyak
yang bisa kami rasakan soal hawa Amerika, selain
Marlboro, Pepsi cola, dan Pizza keju atau HotDog
buatan Giovanni, kepala juru masak markas kami dan
yang disayangkan makanan itupun hanya sesekali.
Barangkali suasana ini pula yang membuat teman karib
ku satu-satunya, Bill Alex, ingin segera saja hengkang
dari negeri ini. Atau mungkin lebih disebabkan
kerinduannya pada istrinya, Joanna, yang ditinggalnya
dalam keadaan mengandung 2 bulan. Sekarang mungkin
bayinya sudah berumur 5 bulan, Aku pernah diberitahu
bahwa anaknya dinamai Peter Alex.
“Percuma…!!” kata Alex suatu waktu, “Guevara itu
tidak akan berkurang, mereka semakin bertambah, dan
tak hanya itu, beberapa waktu lalu aku dapat dari
internet bahwa 3 hari yang lalu 3000 guevara mulai
masuk dari Suriah dan Iran”. Ia menghirup kopi susu
pahitnya dalam-dalam, beberapa rekan satu Barrak mulai
memperhatikan kata-katanya. Alex mulai melanjutkan,
“Kudengar mereka datang dengan kemampuan lebih banyak,
Bahkan mereka bisa membuat bom dari minyak kelapa,
bir, dan bensin, dan itu cukup untuk membuat kita di
barak ini tak pernah melihat Madison Square”.
Aku tersenyum melihat Hayes mengamati kaleng bir di
tangannya dengan heran, beberapa rekan lain pun
tertawa melihatnya meletakkan kaleng birnya itu dengan
hati-hati di atas meja kecilnya. Hayes memang penuh
Humor, tak seperti Alex, teman dekatku itu. Ia memang
bermulut besar. Dan yang kurang kusukai ialah
perkataannya, bukanlah menyemangati pasukan kami,
namun lebih pada membuat mental kami semakin jatuh.
Barangkali ia melakukannya agar kompi ini segera
dipulangkan dan diganti dengan pasukan baru.
“Jadi 750 lebih guevara yang kita tangkap 3 minggu
lalu tak ada artinya..!” Alex menyimpulkan perkatannya
sendiri.
Guevara, ya, begitulah kami di peleton pimpinan sersan
Thompson lebih suka menyebutnya. Kami memang kurang
tahu namun kami kurang suka jika memanggil mereka,
para gerilyawan sebagai seorang mujahidin. Kami
sendiri kurang tahu mengenai arti mujahidin, bahkan
yang paling parah adalah kami mengira bahwa Muhammad
adalah tuhan mereka. Namun keyakinan ini hilang
setelah aku diberitahu bahwa Muhammad adalah nabi
mereka dan Allah lah tuhan dari seluruh ciptannya di
bumi ini. Namun kami tak terlalu peduli. Satu-satunya
hal keagamaan yang kami rasakan toh hanya sewaktu
natal dan paskah, itupun lebih sekedar faktor budaya
barat yang ikut-ikutan merayakan natal. Bahkan mungkin
aku ke gereja hanya dua kali dalam setahun, hanya
waktu natal dan paskah saja. Masih lebih baik daripada
banyak temanku yang hanya 2 kali seumur hidupnya. Saat
menikah, dan nanti ketika meninggal…!!
Namun tampaknya tak hanya Alex, kami pun mulai bosan
berada disini. Bagaimana tidak, kami tidak banyak ikut
dalam pertempuran perebutan kekuasaan negeri ini,
Sersan Thompson tak bisa berbuat banyak, Ia hanya
menerima perintah atasan.
“Semua bersiap, 20 menit lagi kita briefing di A-4”,
Suara sersan Thompson  menggema disambut dengan
tepukan dan siulan dari seluruh yang ada di Barrak
ini. “Tiit“, kunyalakan stopwatch di jam digitalku.
Melihat sekilas, seingatku terakhir kami bertugas
adalah sebulan lalu saat mengawal iring-iringan
logistik markas kami, namun itupun kami sempat
kecolongan sebuah kontainer. Teman-temanku satu barak
ini tidak ada yang tewas sih, namun Russel, divisi
medis kami tertembus peluru di paha atasnya. Ia pun
digantikan oleh seorang baru, seorang Negro, kami
menyebutnya MitNick.
Kupandangi lekat-lekat jam digital persegi yang
melingkar di tanganku. Tulisan Seiko putihnya sudah
mulai pudar. Kutatap lagi, 18.21…., 18.22…., 18.23….,
Yak, 18 menit 24 detik, tepat ketika aku masuk ke
ruang A-4 ini. Kuhamparkan pandangan ke penjuru
ruangan, dan kulihat Alex melambai padaku. Aku segera
menghampirinya.
“Semoga ini tugas terakhir bagiku…!!” katanya tajam.
Menurutku, ia memang sudah sangat bosan. Kuingat betul
kata-katanya yang dalam ini. Ia memang benar-benar
ingin pulang.
“Maksudmu pasukan ini…?”, kubuang permen karet di
mulutku, “tak hanya kau yang ingin pulang, pasukan ini
sudah terlalu lama disini.”. Ingin rasanya kutambahkan
kata-kata namun kulihat sersan Thompson sudah masuk.
“Gentleman.. “ Sersan memulai pembicaraan, “beberapa
waktu lalu, aku dapat kabar bahwa kemarin, USS
Enterprise merapat.” Ia memutus perkatannya, memang
begitulah ia, suka membuat penasaran lawan bicaranya.
Dan yang lebih membahayakan, terkadang ia juga membuat
penasaran para guevara itu.
“Apakah kita disuruh mengelap super carrier itu?” ujar
Hayes disambut gelak tawa di ruang A-4 ini.
“Lebih dari itu, mereka membawa pasukan pengganti bagi
kompi ini”, kulihat mata Alex berbinar mendengar
kata-kata pengganti dari mulut Thompson. Thompson
mengulangi kata-katanya, “Gentleman, minggu depan kita
akan pulang…”
Kata-kata tersebut spontan membuat kami bergembira.
Alex berdiri mengepalkan tinjunya, ia tampak histeris.
Barangkali tepukan dan sahutan 20 orang di ruangan itu
akan terus berlanjut. Namun sersan Thompson meneruskan
perkatannya, “Dan kita disini membahas tugas terakhir
kita…!!” namun ruangan tetap riuh-rendah. Bagi mereka
tugas terakhir seberat apapun akan dijalani, asalkan
kami bisa pulang.
***
Alex  duduk di bangku belakangku hanya tersenyum.
Baginya ia harus segera pulang.  Ia memandang
lekat-lekat sebuah foto bayi kecil berambut pirang.
matanya yang hijau mirip seperti ayahnya. Ia
mendapatkannya dari istrinya melalui email. Banyak
sekali ia menge-print foto itu, sehingga, sungguh
kuhitung tak kurang dari 13 foto yang berbeda
kutemukan tertempel di ranjang susunnya.
Kupindah posisi persneling ke gigi 5, kutambah gas.
Aku ingin agar tugas ini segera berakhir. Terbayang
gambaran Bibi Josh yang membuatkan teh untukku,
sewaktu berangkat sebenarnya ia berniat mengenalkanku
dengan seorang wanita, namun aku lebih memilih tugas
dengan gaji 400 dolar per bulannya. Bagiku kesempatan
berperang adalah pengalaman  langka apalagi di daerah
dengan kultur yang jauh berbeda dengan negeriku.
“Russel…!!” suara itu menghapus bayangan bibi, “Keep
on your way”, suara sersan terdengar jelas dari
telinga kananku.
“Yes sir…!!” kucoba mengalihkan gambaran rumah bibi
Josh dan terus memperhatikan jalan. Humvee ku yang
berada di urutan pertama pasti membuatku menjadi
sasaran empuk setiap guevara.
Namun tak urung suasana jalan yang lengang membuatku
terbayang kembali akan kondisi di rumah. Namun kali
ini tentang ……
“Russel..!!”, suara sersan Thompson memekakkan telinga
kananku, secara refleks aku pun menoleh.

“What’s…..?” tanyaku terputus.
“R..P..G…..!!”, segera saja kubanting setir kemudi
ke arah kanan, menepi dengan cepat. “Dhuar…!” suara
keras ledakan granat berpeluncur roket (kami
menyebutnya stinger atau RPG), menghantam sebuah truk
di belakangku. Supir truk asal kuwait itu terlalu
lamban untuk menghindar. Kendaraannya terhenti
seketika. Kap truk tersebut terbakar.
Tak sempat aku memikirkan tentang kondisi mereka,
humvee ini masih harus bergerak. Mengingat  bisa jadi
masih banyak RPG susulan yang sewaktu-waktu bisa
menghapus harapan Bill Alex. Dengan cepat kupindah
posisi persneling ke gigi mundur lalu kubawa humveeku
ini menjauh. Dan benar saja, segera terpaut 7 detik
sebuah RPG lain menyusul menghantam tanah 10 meter
didepan kami.
Tak sempat kuperhatikan ada sebuah tong berwarna merah
di sisi kiri seberang jalan. Ketika tersadar, tong
tersebut sudah meledak keras di sisi kiri jalan.
Segera saja kaca pintu disebelahku semburat menghantam
sisi kiriku. Refleks kumenundukkan kepalaku, namun
agaknya sudah agak terlambat….. beberapa serpihan kaca
kulihat menancap lengan kananku.
Lantunan teriakan sersan untuk segera keluar adalah
suara terakhir di telingaku. Ketika kutoleh ke arah
beliau, sebuah peluru tampak langsung menembus lengan
kirinya. Entahlah, semua benar-benar seperti adegan
dalam film-film Hollywood selama ini. Semua berjalan
begitu lambat…. Begitu lambat, namun akhirnya tak
urung hanya gelap yang bisa kulihat. Tak lebih..!!
***
Aku terbangun di sebuah kamar, lumayan lebar, dengan
sebuh teralis dari aluminium tebal. Besi agaknya
terlalu berharga disini. Bagiku ini justru mirip
sebuah kamar hotel yang berfungsi sebagai penjara, dan
sepertinya memang begitu. Karena terdapat sebuah kamar
kecil pula di dalam sini. Hanya sebentar aku
terbangun, namun tak urung sakit di kepalaku dan lagi
dengungan di telinga akibat ledakan kemarin membuatku
tak urung harus tertidur lagi…
***
Mungkin aku tertawan disini sudah sekitar 2 hari,
Syukurlah, dengungan di telingaku sudah jauh
berkurang. Namun luka di kepalaku, membuatku banyak
tertidur, ketika terbangun sesekali terdengar suara
riuh, Jika aku berdiri untuk mengintip dari jendela
kecil, yang terlihat mereka tampak berdiri dalam
sebuah barisan rapat. Sempat kupikir mereka berlatih
baris berbaris ala militer, namun lantas aku ingat,
bahwa itu mungkinlah sholat, seperti yang sering
diselorohkan Hayes sebagai “ibadah jungkir balik”.
Tak kusangka mereka memperlakukan ku dengan baik
disini. Baik dari makanan, minuman, kamar kecil,
bahkan hal yang paling membuatku terkesan, mereka
mencucikan bajuku…!! Berbeda jauh jika rekan-rekanku
menangkap beberapa guevara. Sebuah pukulan di kepala
dan perut, itu hanya hal yang paling minimal. Namun
tak kusangka, tak sekalipun mereka memukulku. Luka
yang ada dikepalaku dan sebagian kecil di tanganku,
adalah akibat ledakan terakhir kemarin.
Suasana bosan mulai menjalar dalam darahku, kucoba
untuk berkomunikasi pada salah seorang disitu. “Apa
sih ibadah yang kalian lakukan, yang sambil begini
begitu..??”, tanyaku pada penjaga suatu hari sambil
menirukan beberapa gerakan mereka.
Namun dia tampak kebingungan, dia hanya mengigau tak
karuan, lalu aku sadar bahwa orang ini bisu. Dan
lagipula aku rasa ia pun tak paham akan bahasa
inggris. Aku pun hanya menunjuknya, sambil berkata,
“Your Commander..!!”. agaknya ia mengerti dengan
ucapanku kali ini, ia pun ngeloyor pergi.
Seperempat jam kemudian, seseorang berkemeja hitam
datang. Tak kusangka ternyata ia jauh dari kesan
sangar dari seorang warga irak. Dan memang kurasakan
benar sebuah aura kepemimpinan terpancar dari dirinya.
Ia mengambil kursi, lima meter di depan teralisku.
“Apa sih ibadah yang kalian lakukan, yang sambil
begini begitu..??”, tanyaku sama pada orang tersebut.
“Itu sholat, salah satu kewajiban kami dalam islam,
hal mendasar yang membedakan kami dengan orang seperti
kalian. Jawabnya singkat. Orang itu mengambil sesuatu
dari saku kemeja hitamnya. Dia mengambil sebuah foto.
“Apakah mereka keluargamu..??”, Ia menyodorkan foto
tersebut kepadaku.
Aku mengernyitkan keningku, kuraih dari tangannya foto
tersebut lalu kupandangi sejenak. Tak lama kemudian
aku sadar siapa yang ada dalam foto tersebut. Joanna
dan peter..!! kontan aku berteriak, “Alex, apa kalian
membunuhnya..!! kalian pembunuh..!! Guevara
Keparat..!!!”
Pria itu tak banyak berkata, ia menunggu emosiku agak
reda dahulu.
“Entahlah, kami juga tidak tahu apakah ia tewas atau
tidak, kami menemukannya bersama sebuah senapan M4A1
pasukan kalian”, dia bangkit dari duduknya dan
melanjutkan, ”tapi kami rasa mungkin dia tewas karena
disekitarnya ada lumayan banyak darah. Dari satu
konvoi kalian, hanya kamu yang tertinggal dan kami
membawamu kesini” Jawabnya seolah tanpa ekspresi.
Jawaban seperti itu kontan membuat darahku naik,
“Kalian tidak tahu betapa sebenarnya dia sudah
betul-betul mengharap kepulangannya..!!! Kalian
tahu..??” aku mengambil nafas sejenak, “Dia sahabatku
satu-satunya, foto itu adalah keluarga dia di US, dan
kalian telah membunuh satu-satunya tumpuan keluarga
mereka..!!!”
“Oh ya…??? Ada lagi sebelum aku menjawab
pertanyaanmu..??” tukas pria itu singkat. Seolah ia
tak merasa bersalah sedikitpun.
“Kalian tidak tahu bagaimana Alex sangat mencintai
keluarganya, dan bagaimana ia sangat merindukan
keluarganya..!! dalam bulan ini kami seharusnya sudah
pulang, namun kalian betul-betul sudah menghancurkan
impian dia untuk pulang ke keluarganya..!!” kataku
setengah berteriak. Ini membuat penjaga bisu tadi
tampak setengah ketakutan. Melihat itu, dalam hati aku
tersenyum agak puas.
“Itulah perang kawanku, “ Ia masih tetap tenang.
“Kalian hanya kehilangan satu dan kau sudah berteriak
seperti itu…???” jawabnya agak sinis.
“kalian tahu berapa sih keluarga kami disini, berapa
sih penduduk disini, atau bahkan berapa rumah sakit,
dan sekolah, yang didalamnya masih terdapat anak-anak,
orang tua dan mereka yang tidak layak perang, kalian
bunuh dan hancurkan…???”
aku tercenung mendengar jawabannya.
“Maaf, dalam perang, kami paling punya etika. Kami
hanya menyerang tentara dan orang-orang yang
berpotensi kesana. Kami tidak menangkap apalagi
membunuh wanita2 kami yang lemah seperti yang kalian
lakukan selama ini..!!” jawabnya tegas.
“Mohon direnungkan..!!”, ia beranjak bangkit dari
kursinya. Aku tak bisa menjawab kata-katanya. Mulutku
seolah tercekat kuat.
Ketika aku sadar ia hendak  pergi, segera kucegat dia
dengan sebuah pertanyaan.“Oh ya, satu pertanyaan
terakhir, kenapa kalian tidak membunuhku, kenapa
kalian justru menawanku disini..??, bukankah aku juga
termasuk orang yang ikut dalam membunuh keluarga
kalian..??” tanyaku sambil bersikap seolah menantang.
“Anda terlalu berharga, kami ingin menukar saudara
dengan beberapa wanita dan anak-anak kami yang ditawan
di penjara Anda.”, jawabnya sopan. Ia pun berlalu
sambil memberi isyarat pada penjaga bisu disebelahnya.
Dan hari-hari selanjutnya, komandan yang tak pernah
mau menyebut namanya ini selalu menyempatkan waktunya
untuk mengunjungiku. Kesempatan ini tak kusia-siakan.
Aku pun menanyakan banyak hal kepada dia, dari hal-hal
kecil seperti bagaimana keluarganya, sampai hal-hal
tentang prinsip orang tersebut. Ternyata dia seorang
muslim yang taat, aku pun banyak bertanya kepadanya
tentang hal-hal Keislaman.
“Ketika kalian berperang untuk menang, maka berbeda
dengan kami…!!”, katanya suatu hari. Aku mengernyitkan
dahiku tanda tak mengerti.
“Ketika kami memutuskan untuk berperang, hanya satu
kata yang ada, yaitu Menang. Tak peduli apapun hasil
kami di peperangan itu. Kemenangan hanya bisa dibagi
menjadi 2 kata, menang atau mati syahid, sebuah
kematian yang mulia dalam Islam.” Jawaban ini otomatis
menjawab pertanyaan dalam hatiku selama ini, bagaimana
bisa sih sebuah pasukan kecil, tidak ada apa-apanya
berani menentang kekuatan sedemikian besarnya seperti
Amerika…?? Namun ini tak banyak membuatku terkesan.
Sampai suatu hari, dia bertanya kepadaku, “Pernahkah
Anda berpikir, untuk apa kita diciptakan, hidup di
dunia ini..???, mungkin suatu waktu, Anda harus
merenung tentang tiga pertanyaan kehidupan.
“Apa itu..??” tanyaku antusias.
“satu, Siapa yang menciptakanmu, Dua, Untuk apa kau
diciptakan dan hidup didunia ini, dan terakhir, Akan
kemana, kau setelah matimu.”, jawabnya.
Aku pun hanya manggut-manggut, memang juga sih aku
belum pernah disodori pertanyaan seperti itu. Tapi
agaknya waktuku di hotel penjara ini pun harus segera
berakhir. Aku tak bisa banyak merenung disini, “Besok,
kamu akan ditukarkan..!!” tukas pria yang biasanya
kutemui.
“Kita akan jarang bertemu lagi..!!” kataku.
“Dan mungkin kita pun akan saling bertempur lagi…!”
tukasnya sambil tersenyum simpul. Aku hanya tersenyum
kecut.
***
Keesokan paginya, mereka membawaku keluar, mataku
ditutup dengan kain gelap, dan aku dinaikkan dalam
sebuah mobil.. Aku dibawa berputar-putar dulu supaya
aku tak tahu dimana saja aku sekarang berada.
Sesampainya di sebuah jalan di mana kanan dan kiriku
hanya gurun kering kecoklatan, aku diserahkan ke
seorang pria berseragam Airborne. Seorang sersan
rupanya.
Dalam perjalanan, aku tak banyak berkata. Di markas,
pihak intelijen militerpun sempat menginterogasiku
semalaman. Mereka bertanya macam-macam, dari apa saja
yang aku katakan pada guevara, maupun hal-hal lainnya.
Dan lagi-lagi memang tak banyak yang bisa kuceritakan
karena memang jujur tak banyak yang kuketahui selain
apa yang mereka katakan tentang Islam. Agaknya para
intel-intel militer itu tidak seberapa puas. Namun mau
apa lagi, mereka pun tak urung menerima juga. Meski
tak lama kemudian, entah aku seperti merasa diawasi.
Karena luka dikepalaku, ditambah lagi aku belum
diperbolehkan banyak bergerak, maka tak urung aku pun
diperintahkan untuk pulang kembali ke US. Setelah
prosesi penyerahan medali kehormatan atas luka yang
diperoleh beberapa diantara kami, termasuk sersan
thompson dan Alex yang ternyata masih hidup,
keberangkatan kami pun dimulai. Sempat kupandangi
sebentar USS Enterprise ini, Tak kusangka, besar juga
sebuah mesin perang kebanggan Amerika.
Di kapal ini, aku disarankan untuk lebih banyak
beristirahat. Aku ditempatkan di ruang medis dan
perawatan.  Agaknya luka dikepalaku, memang butuh
perawatan, karena sesekali aku masih merasa sakit
dipelipis kananku. Sambil berbaring, di ruang sempit
ini, aku pun banyak merenung. Merenung apapun atas apa
yang kulakukan selama ini. Sesekali terbayang gambaran
bibi Josh, namun agaknya ucapan-ucapan dari komandan
guevara itu yang banyak kurenungi. Waktu beberapa hari
di atas kapal ini membuatku semakin gundah…  aku ingin
segera tahu jawaban dari tiga pertanyaan kehidupan
itu.
Sesekali ketika sudah malam hari, aku keatas dek untuk
terkadang merenung sekali lagi. Suara dengungan
pesawat yang berlatih dimalam hari, tak banyak
kuhiraukan. Aku hanya merapatkan jaketku sambil
memandang langit. Dokter bagian medis memang memberiku
ijin untuk itu, dan ini membuatku semakin senang. Aku
terus memikir, apa sih tiga pertanyaan kehidupan
itu..???
***
Lima bulan kemudian…..
***
Kupandang istriku di sisi mobilku, dia sedang tertidur
sambil tersenyum kearahku. Dalam hati, aku berkata,
cantik juga istriku ini. Sebuah buku karangan al qarny
ada dipangkuannya. Ia mengenakan gamis putih dipadu
dengan jilbab birunya. Ya, aku sekarang adalah seorang
muslim, diantara muslim-muslim di Amerika lainnya, Aku
menikah baru sebulan yang lalu, ia orang Amerika
keturunan bosnia. Tak kusangka perenungan di USS
Enterprise membawa sebuah cahaya tersendiri bagiku.
Seminggu setelah kepulanganku aku memutuskan keluar
dari kemiliteran. Dan beberapa hari setelahnya, aku
pun mencari sebuah Islamic center terdekat. Tak sulit
menemukan hal itu di san Fransisco, karena sejak
peristiwa 9/11 kemarin, tempat itu menjadi begitu
terkenal. Akhirnya, aku sekarang sudah menemukan
sebuah kesejukan yang belum pernah kurasakan
sebelumnya. Sebuah cahaya, Sebuah matahari diantara
gelapnya qalbu para awak enterprise yang lain.
Ingin rasanya aku pun juga bersegera untuk setidaknya
membantu mereingankan beban saudara-saudaraku di Irak
sana. Semakin kuingat-ingat kejadian dahulu, terkadang
semakin bertambah pula kebencianku kepada negeri ini.
“Suatu waktu, aku harus melakukan sesuatu pada negeri
ini, suatu waktu…. Dengan cara apapun… Harus..!!!”,
azzamku tegas. Oya, aku barankali tidak membenci
negeri ini, namun kebencianku adalah pada pemerintah
ini , beserta seluruh kebijakan luar negerinya yang
menurutku omong kosong belaka.
Suaraku agaknya membangunkan istriku, tapi dia hanya
menatapku singkat, aku balas tatapannya dengan mencoba
tersenyum. Namun tampaknya dia tak begitu peduli, dia
pun menutup matanya lagi dan terbuai dengan mimpi
indahnya.
Di luar jendela, agaknya senja sudah mulai mendekat.
Segera kupercepat laju mobilku.  Di luar, hari sudah
menjelang gelap, namun selamanya tak akan kubiarkan
kegelapan sekali lagi menaungi hatiku. Dalam senja
kutemukan sebuah jawaban, Bahwa ternyata tiga
pertanyaan kehidupan adalah tidak untuk dijawab, namun
adalah untuk dipikir, dipahami, dan direnungkan…
Biarlah sebuah Super Carrier, Enetrprise,  menjadi
saksi Buta atas bagaimana sebuah cahaya itu bermula

Juara I Lomba Menulis Cerpen se-Kota Malang
Forum Lingkar Pena Malang 2006′
(ha? cerpen asal gini jadi juara 1??)

indahnya sholat

•Oktober 14, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

2indahshalat16

2indahshalat15

2indahshalat14

2indahshalat14

soal UAP komputer dasar

•Desember 24, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

soal UAP komputer dasar

1. dengan menggunakan FUNGSI/PROCEDURE (buat dulu) buat program untuk menampilkan bilangan fibonacci hingga nilai ke n.
sehingga semisal dipanggil fungsi
fibonacci(100);
maka akan menampilkan barisan fibonacci dari 1 hingga sebelum 100.

keterangan : barisan fibonacci adalah sebaris bilangan dimana bilangan ke-n didapat dari hasil penjumlahan bilangan n-1 dan n-2.
1 1 2 3 5 8 13 dst…
2 = 1 + 1
3 = 1 + 2
5 = 3 + 2
8 = 3 + 5
dst…

2. Buat program (gunakan fungsi/procedure) untuk menampilkan piramida angka dengan m dan sebagai berikut.

Masukkan n : 2
masukkan m : 4

2
4 6
8 10 12
14 16 18 20

Masukkan n : 3
masukkan m : 5
3
6 9
12 15 18
21 24 27 30
33 36 39 42 45

paham maksudnya kan?
n menunjukkan bilangan klipatan n (misal n=2 maka yang ditampilkan adalah urutan bilangan kelipatan 2)
m menunjukkan baris ke bawah. ketika dimasukkan m = 4 maka ditampilkan piramida sebanyak 4 tingkat. ketika dimasukkan m= 5 ditampilkan sebanyak 5 tingkat.

PILIH SALAH SATU SOAL DIATAS.

Waktu pengerjan selama 1 pekan. dikumpulkan MAX 31 desember 2008.
Dikumpulkan source code dan laporannya via email ke tonitegarsahidi@yahoo.com dengan subject
“UAP KOMPDAS [NIM]”

kurang jelas? hubungi sahid 08175404373
atau 0341-8160333.

selamat mengerjakan ^_^ semangat!!!

Beasiswa Keinginan dan Beasiswa Kebutuhan

•November 12, 2008 • 1 Komentar

Beberapa waktu lalu ada pemandangan yang cukup menarik perhatianku. Saat itu Senin sore, ketika aku sedang akan UTS matakuliah Riset Dasar Ilmu Komputer. Di sebelah ruang kelasku tampak berkerumun sekumpulan mahasiswa. Seperti biasa, paling sedang akan kuliah, begitu pikirku. Sedang menunggu dosen yang belum datang atau mungkin menunggu kelas yang masih dipakai. Biasa, pikirku.

Namun mau tak mau, aku pun jadi heran, ketika yang hadir tambah banyak, dan dari berbagai jurusan. Ada fisika, ada matematika, ada kimia, dan ilmu komputer juga. Tak pernah ada mata kuliah gabungan seheterogen ini di fakultasku. Maka aku pun coba bertanya ke salah seorang adik angkatanku, ”Ada apa akh, antum ada kuliah disini?”, karena dia dari ilmu komputer, aku pikir juga akan kuliah sore itu.

”Oh nggak ada, Ini akh, pembagian beasiswa”, jelasnya.

”Ooo.. ”, aku pun jadi manggut-manggut sendiri. Pantas saja, ada dari banyak jurusan yang berkumpul.

Aku tak sempat memperhatikan mereka lebih jauh, karena aku sambil mempersiapkan UTS, sedang baca-baca dari laptop, hingga akhirnya dosen pun masuk. Ujian tak berlangsung lama, karena memang bukan mata kuliah yang menuntut hafalan (saya paling susah menghafal), hanya pelajaran yang butuh banyak menulis dan ber-imajinasi, dan itu kesukaan saya.

Setelah presensi, dan menumpuk lembar ujian, aku pun keluar. Di sebelah kelasku, sekumpulan mahasiswa itu masih tampak berkerumun. Hanya saja bedanya kini mereka kebanyakan ada di dalam kelas, menunggu satu persatu dipanggil oleh Mas Heri, staf kemahasiswaan.

Aku tak ambil pusing, aku pun hanya berdiri di luar, sambil menunggu sahabatku yang tak terlalu suka menulis. Sesekali kulihat mahasiswa-mahasiswa itu, tampaknya tak ada yang memasang wajah sedih, semuanya tampak sumringah. Maklum, sore ini mereka ”gajian” pikirku.

Sambil menunggu, sayup-sayup aku mendengar suara itu, ”Kalau 500 ribu per bulan, ntar buat apa ya?”, aku hanya tersenyum mendengar itu. Aku coba mengintip ke dalam ruang kelas pembagian yang terbuka itu, barangkali saja ada sahabat yang memang kukenal agak kekurangan hadir disana. Namun yang kucari ternyata tak ada di dalam sana.

Saat itu, aku tak sempat berpikir lebih jauh karena sahabat yang ku tunggu akhirnya keluar. Kami pun segera beranjak, karena saat itu memang kami janjian akan mensetting komputer di warnet perpus untuk pelatihan esok hari.

Hingga pagi ini tadi aku merenung. Kini aku pun jadi berpikir, kira-kira apa yang akan mereka lakukan dari uang beasiswa mereka ya? Dengan nominal yang bervariasi, namun menurutku sepertinya minimal 250ribu per bulan, atau bahkan bisa jadi ada yang 500ribu per bulan. Tentu tergantung beasiswa apa yang beliau dapat.

Terlebih pembayaran beasiswa, biasanya tidaklah dibayarkan setiap bulan, melainkan langsung per-6 bulan. Sehingga jika seorang mahasiswa mendapatkan uang 250ribu/bulan, maka dia akan langsung menerima uang 1,5juta cash and carry. Jika beliau mendapat yang 500ribu/bulan, maka ia akan mendapatkan 3juta, cash and carry.

Kalau mereka dapat beasiswa kurang mampu, mungkin untuk kuliah, untuk makan dan keperluan sehari-hari, barangkali? Ah semoga saja memang mereka untuk itu. Kalau untuk beasiswa prestasi, aku memang tak terlalu memperdulikan, karena itu semacam kontraprestasi atas jerih payah prestasi mereka. Untuk peningkatan akademik, beli buku, atau langganan internet, mungkin masih wajar.

Namun melihat sebagian besar dari mereka, aku pun jadi berpikir, mereka kebanyakan bukan orang-orang yang ”kurang mampu”. Saya yakin sebagian diantara mereka, HPnya lebih bagus daripada HP saya, motornya lebih baru daripada motor saya, ataupun kosannya pun lebih mahal daripada kosan saya dahulu.

Saya pun yakin, orang-orang ini sehari-harinya tentulah tidak pernah kekurangan makan. Setidaknya tiga hari sekali itu sudah biasa. Ada memang dari mereka yang kekurangan, namun sebagian besar dari mereka? Tampaknya bukan sebagian besar. Semoga mereka bukan orang-orang yang men-tidak mampukan- diri agar mendapat beasiswa, seperti beberapa orang-orang menengah keatas berebut GAKIN agar bisa berobat gratis, atau berebut gelar miskin agar mendapat BLT, atau apalah.

Sudahlah, bagi saya kemudian yang terpenting adalah akan digunakan untuk apa uang mereka. Jadi teringat akan dua teman saya yang langsung beli HP begitu uang beasiswa itu turun. HP yang bagiku cukup mahal untuk ukuran beliau.

Bagiku mahal itu bukan pada berapa harganya, melainkan pada berapa harganya jika dibandingkan dengan FASILITAS/FITUR dan KEBUTUHANnya. HP saya 775ribu, bagi sebagian orang ini mahal, namun bagi saya saya memang membutuhkan fitur-fitur HP ini untuk mobilitas saya. Mulai dari kemampuan USB Storage, hingga GPRSnya.. Bagi sebagian orang, laptop itu mahal, namun bagi seorang ilmu komputer yang super mobile seperti saya, maka itu menjadi barang yang semi wajib.

Namun melihat kebijakan dua sahabat saya dengan uang beasiswanya, membuat saya jadi sedikit kecewa. Satu teman saya sayangkan karena membeli HP yang bagus (600ribuan) padahal kebutuhan utama beliau paling hanya untuk sms dan telepon. Namun yang ini setidaknya masih bisa saya maklumi, karena HP sebelumnya memang sudah sangat tidak layak pakai. Dalam artian ia memang benar-benar memerlukan HP.

Namun yang membuat saya tak kalah agak sedih lagi, pada teman saya yang satunya. Beliau sudah punya HP, namun kali ini membeli lagi untuk nomer satunya lagi. Jadilah ia punya 2 HP. Seandainya HP yang baru adalah HP CDMA, maka tak masalah, wajar karena beda teknologi, beda tarif, beda keperluan. Namun dua HP ini sama-sama GSM-nya, hanya saja untuk nomor GSM satunya, mengingat katanya partner utamanya kebanyakan pakai nomor operator tersebut.  Aku pun berpikir, apa ganti kartu ketika akan telepon menjadi begitu sulit?

Jika HP second, atau baru yang agak murah sih wajar menurutku, tapi ini tidak, ketika melihat HP beliau HP yang baru, dengan fitur-fitur yang saya yakin, beliau tidak terlalu membutuhkan selain untuk telepon dan SMS. Dan lengkaplah sudah kekecewaanku ketika melihat merk yang dibeli sang ikhwah adalah Nokia, Merk yang seharusnya diboikot karena menyumbangkan untuk Israel menjajah negeri Palestina. Padahal untuk kelas kebutuhan dan fitur yang sama, HP keluaran negeri Korea (macam LG, atau Samsung) tak kalah bagusnya, bahkan untuk harga yang lebih miring.

Entahlah, aku hanya berhusnudzon, tentulah beliau punya pertimbangan tersendiri untuk hal ini. Semoga bukan termasuk dalam kegiatan berlebih-lebihan. Mungkin beliau punya pertimbangan yang lebih matang untuk hal ini.

Jadi teringat bahwa ada seorang kader SKI yang sudah di perantauan, namun kiriman tak sampai 300ribu sebulan, Itu belum untuk membayar kost seharga 80ribu. Belum keperluan lainnya. Jadi ingat pula ada kader yang makan sehari sekali itu sudah biasa. Atau kalaupun makan, lauk telur itu sangat mewah, karena sehari-hari hanya nasi dengan krupuk satu, atau gorengan seribu. Jadi teringat pula ada seorang adik angkatan yang beli makan sambil memakai SARUNG dan berSEPATU hanya karena tak punya sandal, agar tetap bisa makan. Jadi teringat pula bahwa SKI sedang butuh komputer, butuh printer, jadi ingat pula … Ah…sudahlah, ana yakin beliau orang yang bijak, termasuk dalam hal ini. Ah, aku jadi malu pada diri ku sendiri…..

Aku memang tidak mengajukan beasiswa, baik prestasi ataupun tak mampu. Bagiku, berdiri diatas keringat sendiri lebih mulia daripada mereka yang menurunkan status menjadi tak mampu untuk uang 1-3 juta persemesternya. Terlebih masih banyak yang lebih berhak atas beasiswa-beasiswa itu daripada saya.

Kini aku hanya bisa berharap, semoga mereka yang baru saja mendapat beasiswa mampu menggunakannya untuk KEBUTUHAN yang lebih bijak, dan bukan semata-mata KEINGINAN mereka. Bagi yang menerima beasiswa prestasi, semoga dengan beasiswa itu lebih meningkatlah prestasi mereka. Dan bagi beasiswa yang kurang mampu, semoga digunakan untuk mencukupi kebutuhan mereka. Sehingga tak lagi perlu kuliah sambil berpikir bahwa uang di tangan tinggal 5ribu sementara kiriman tak akan datang.

Semoga…..

Malang, 12 November 2008 ,

Pagi, sebelum berangkat bekerja

Kembalikan Sahid Kepadaku!!! (bagian 3 – habis)

•September 11, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kau, Kau, lalu AKU!!

***

Tertunduk aku di sebuah sudut senja yang manja, ada butir-butir sesak di dada, lalu benih-benih rindu yang kemudian menyeruak. Kerinduan tentang masa laluku, masa lalumu, masa lalu kita, dan masa-masa lalu siapapun.

Beberapa hari aku mengasingkan diri, dalam gua di rimba peradaban. Mencoba menggali-menggali dan terus menggali kembali harta karun yang telah sekian lama terkubur aktifitas luar biasa sibuknya. Hidup seolah sudah terasa layaknya mesin. Yang terus saja berputar meski tiada daya yang mendukungnya. Dan kini ia butuh sejenak berhenti.

Hingga sore itu pun aku terpaku, di sisi masjid megah namun lengang dari orang berjamaah. Ada suara-suara yang bergetar, ada suara-suara terisak. Desah nafas yang berat beserta wajah tertunduk. Mata sembab namun tiada sempat setetes pun tuk luruh turun basahi alur-alurnya.

Lalu tiba-tiba tangis itu pecah. Tak terdengar telinga manusia, namun hati siapapun yang peka, pastilah kan menutup telinga hatinya. Tak sekedar tangisan, namun juga jeritan, teriakan, layaknya yel-yel tanpa irama. Tanpa terasa, mata mulai lebih lembab dari biasanya. Nafas berat pun terulur naik. Ingin aku luapkan dalam denyut-denyut tangisan nyata, namun tak kunjung bisa. Entah kenapa, jiwa sedari tadi menangis, namun ada sebuah sekat membuntu antara jiwa dan air mata. Maka Sungguh, benteng kokoh itu kini telah tergetar.

Bukan karena musuh yang menyerang, namun karena aktifitasnya, karena suasananya yang memang tak lagi layak kita sebut sebagai benteng. Tak ada kenyamanan, tak ada keamanan, tak ada privacy.

Perenungan adalah sebuah telaga kekuatan bagi ku. Kekuatannya dahsyat bagai nuklir, karena memang itulah kekuatan inti bagi jiwaku. Ketika goyah, maka penjara pengasingan menjadi tempat perenungan yang mengasyikkan. Bukankah orang-orang besar dahulu melahirkan karya-karya besarnya dalam pengasingan?

Merenung.. Menangis..
Merenung.. Air Mata..
Isak tangis.. Merenung..

Bagai menyaksikan seluruh episode kehidupanku, kutatap lekat video dokumentasi itu. Tiba tiba aku seolah menemukan diriku kembali. dan tiba-tiba saja, layaknya kaset handycam yang jenuh merekam, semua-nya ter-reset ke titik nol.
Semangat itu kembali
Ruh itu Hidup Lagi..!!

***

Aku masih punya mimpi!
tentang negeri ini!
dan semesta
maka ijinkan AKU
HARI INI untuk KEMBALI!
untuk melanjutkan karya kita
MIPA,Indonesia,dan dunia!

***
Ada sebuah bingkai besar menunggu untuk kita lukisi dengan kuasan-kuasan pena kita. Untuk kita lukis dengan sejarah cerdas cerah nan bercahaya. Sejarah bernama peradaban madani.

Kita tak akan takut karena terik cahaya kan buat warnanya pudar, atau atap bocor rumah kita dikala hujan kan lunturkan warnanya. Karena kita melukisnya dengan warna-warni jiwa, yang tak kan lapuk dan tak kan lekang meski ribuan senjata terkokang mengacung kepadanya. Dengan tegar ia kan berkata! ”Aku hanya merindu Surga”.

Kami tahu bahwa kemarin telah tiada, bahwa masa tak bisa diputar sesuai kehendak kita. Hanya hari ini yang tersisa, untuk kita isi, gunakan, manfaatkan, lalu persiapkan untuk keesokan hari.

Dan biarkan arus masa yang deras menentukan dimana hilir kita. Akan kemana kita akan bermuara. aku hanya bisa mengayuh menyusuri aliran arus agar tak hempas karena batu, tak tumpah karena ceruk, ataupun tak berhenti karena telah sampai muara samudera

Ia tetap bergerak, meski yang lain diam. Dalam bentuk arus atau sekedar uap siklus, ia tetap bergerak. Adakalanya ketika cukup, jadilah riak itu menjadi gelombang. Gelombang yang menggerakkan, menggetarkan, dan menghempas kedzaliman.

Kini Ia Siap,

Saudaraku…
Maaf membuatmu menanti
Kini Aku Sudah Kembali…

Malang, 11 September 2008 – 05:34 pagi hari
Sahid REFURBISHED
seperti yang kau kenal dulu
Insya Allah..