Tiga Pertanyaan Kehidupan – Cerpen
Tiga Pertanyaan Kehidupan
Sudah 12 bulan, 2 minggu dan 3 hari kami berada disini
(aku catat betul hari-hariku dalam diaryku). Di negeri
yang bukan milik kami. Dan kerinduan mulai menjalar
diantara kami. Koneksi gratis internet untuk berkirim
surat maupun bertelepon ria ke Amerika, tak banyak
mengobati keinginan kami, divisi ke V Airborne kompi
A, untuk pulang. Pulang ke negeri dimana kami bisa
minum Bir sepuasnya, memanggang babi dari peternakan,
mengendarai Porsche menarik gadis-gadis di tepi jalan
yang kuyakini bukan gadis lagi, bermain Frisbies dalam
hembusan angin Florida, atau mengendap-ngendap dan
mengamati dari kejauhan, Area51, sebuah area paling
terlarang di negeri kami.
Namun disini, di negeri dimana orang menyebutnya
negeri 1001 malam (aku hanya pernah membaca ceritanya
tentang Aladin dan Ali Baba saja, itupun ketika masih
di Primary School), tak banyak yang kami lakukan.
Berbeda dengan beberapa GI lainnya di daerah Green
Zone, kami di ladang peluru Fallujah ini tak banyak
yang bisa kami rasakan soal hawa Amerika, selain
Marlboro, Pepsi cola, dan Pizza keju atau HotDog
buatan Giovanni, kepala juru masak markas kami dan
yang disayangkan makanan itupun hanya sesekali.
Barangkali suasana ini pula yang membuat teman karib
ku satu-satunya, Bill Alex, ingin segera saja hengkang
dari negeri ini. Atau mungkin lebih disebabkan
kerinduannya pada istrinya, Joanna, yang ditinggalnya
dalam keadaan mengandung 2 bulan. Sekarang mungkin
bayinya sudah berumur 5 bulan, Aku pernah diberitahu
bahwa anaknya dinamai Peter Alex.
“Percuma…!!” kata Alex suatu waktu, “Guevara itu
tidak akan berkurang, mereka semakin bertambah, dan
tak hanya itu, beberapa waktu lalu aku dapat dari
internet bahwa 3 hari yang lalu 3000 guevara mulai
masuk dari Suriah dan Iran”. Ia menghirup kopi susu
pahitnya dalam-dalam, beberapa rekan satu Barrak mulai
memperhatikan kata-katanya. Alex mulai melanjutkan,
“Kudengar mereka datang dengan kemampuan lebih banyak,
Bahkan mereka bisa membuat bom dari minyak kelapa,
bir, dan bensin, dan itu cukup untuk membuat kita di
barak ini tak pernah melihat Madison Square”.
Aku tersenyum melihat Hayes mengamati kaleng bir di
tangannya dengan heran, beberapa rekan lain pun
tertawa melihatnya meletakkan kaleng birnya itu dengan
hati-hati di atas meja kecilnya. Hayes memang penuh
Humor, tak seperti Alex, teman dekatku itu. Ia memang
bermulut besar. Dan yang kurang kusukai ialah
perkataannya, bukanlah menyemangati pasukan kami,
namun lebih pada membuat mental kami semakin jatuh.
Barangkali ia melakukannya agar kompi ini segera
dipulangkan dan diganti dengan pasukan baru.
“Jadi 750 lebih guevara yang kita tangkap 3 minggu
lalu tak ada artinya..!” Alex menyimpulkan perkatannya
sendiri.
Guevara, ya, begitulah kami di peleton pimpinan sersan
Thompson lebih suka menyebutnya. Kami memang kurang
tahu namun kami kurang suka jika memanggil mereka,
para gerilyawan sebagai seorang mujahidin. Kami
sendiri kurang tahu mengenai arti mujahidin, bahkan
yang paling parah adalah kami mengira bahwa Muhammad
adalah tuhan mereka. Namun keyakinan ini hilang
setelah aku diberitahu bahwa Muhammad adalah nabi
mereka dan Allah lah tuhan dari seluruh ciptannya di
bumi ini. Namun kami tak terlalu peduli. Satu-satunya
hal keagamaan yang kami rasakan toh hanya sewaktu
natal dan paskah, itupun lebih sekedar faktor budaya
barat yang ikut-ikutan merayakan natal. Bahkan mungkin
aku ke gereja hanya dua kali dalam setahun, hanya
waktu natal dan paskah saja. Masih lebih baik daripada
banyak temanku yang hanya 2 kali seumur hidupnya. Saat
menikah, dan nanti ketika meninggal…!!
Namun tampaknya tak hanya Alex, kami pun mulai bosan
berada disini. Bagaimana tidak, kami tidak banyak ikut
dalam pertempuran perebutan kekuasaan negeri ini,
Sersan Thompson tak bisa berbuat banyak, Ia hanya
menerima perintah atasan.
“Semua bersiap, 20 menit lagi kita briefing di A-4”,
Suara sersan Thompson menggema disambut dengan
tepukan dan siulan dari seluruh yang ada di Barrak
ini. “Tiit“, kunyalakan stopwatch di jam digitalku.
Melihat sekilas, seingatku terakhir kami bertugas
adalah sebulan lalu saat mengawal iring-iringan
logistik markas kami, namun itupun kami sempat
kecolongan sebuah kontainer. Teman-temanku satu barak
ini tidak ada yang tewas sih, namun Russel, divisi
medis kami tertembus peluru di paha atasnya. Ia pun
digantikan oleh seorang baru, seorang Negro, kami
menyebutnya MitNick.
Kupandangi lekat-lekat jam digital persegi yang
melingkar di tanganku. Tulisan Seiko putihnya sudah
mulai pudar. Kutatap lagi, 18.21…., 18.22…., 18.23….,
Yak, 18 menit 24 detik, tepat ketika aku masuk ke
ruang A-4 ini. Kuhamparkan pandangan ke penjuru
ruangan, dan kulihat Alex melambai padaku. Aku segera
menghampirinya.
“Semoga ini tugas terakhir bagiku…!!” katanya tajam.
Menurutku, ia memang sudah sangat bosan. Kuingat betul
kata-katanya yang dalam ini. Ia memang benar-benar
ingin pulang.
“Maksudmu pasukan ini…?”, kubuang permen karet di
mulutku, “tak hanya kau yang ingin pulang, pasukan ini
sudah terlalu lama disini.”. Ingin rasanya kutambahkan
kata-kata namun kulihat sersan Thompson sudah masuk.
“Gentleman.. “ Sersan memulai pembicaraan, “beberapa
waktu lalu, aku dapat kabar bahwa kemarin, USS
Enterprise merapat.” Ia memutus perkatannya, memang
begitulah ia, suka membuat penasaran lawan bicaranya.
Dan yang lebih membahayakan, terkadang ia juga membuat
penasaran para guevara itu.
“Apakah kita disuruh mengelap super carrier itu?” ujar
Hayes disambut gelak tawa di ruang A-4 ini.
“Lebih dari itu, mereka membawa pasukan pengganti bagi
kompi ini”, kulihat mata Alex berbinar mendengar
kata-kata pengganti dari mulut Thompson. Thompson
mengulangi kata-katanya, “Gentleman, minggu depan kita
akan pulang…”
Kata-kata tersebut spontan membuat kami bergembira.
Alex berdiri mengepalkan tinjunya, ia tampak histeris.
Barangkali tepukan dan sahutan 20 orang di ruangan itu
akan terus berlanjut. Namun sersan Thompson meneruskan
perkatannya, “Dan kita disini membahas tugas terakhir
kita…!!” namun ruangan tetap riuh-rendah. Bagi mereka
tugas terakhir seberat apapun akan dijalani, asalkan
kami bisa pulang.
***
Alex duduk di bangku belakangku hanya tersenyum.
Baginya ia harus segera pulang. Ia memandang
lekat-lekat sebuah foto bayi kecil berambut pirang.
matanya yang hijau mirip seperti ayahnya. Ia
mendapatkannya dari istrinya melalui email. Banyak
sekali ia menge-print foto itu, sehingga, sungguh
kuhitung tak kurang dari 13 foto yang berbeda
kutemukan tertempel di ranjang susunnya.
Kupindah posisi persneling ke gigi 5, kutambah gas.
Aku ingin agar tugas ini segera berakhir. Terbayang
gambaran Bibi Josh yang membuatkan teh untukku,
sewaktu berangkat sebenarnya ia berniat mengenalkanku
dengan seorang wanita, namun aku lebih memilih tugas
dengan gaji 400 dolar per bulannya. Bagiku kesempatan
berperang adalah pengalaman langka apalagi di daerah
dengan kultur yang jauh berbeda dengan negeriku.
“Russel…!!” suara itu menghapus bayangan bibi, “Keep
on your way”, suara sersan terdengar jelas dari
telinga kananku.
“Yes sir…!!” kucoba mengalihkan gambaran rumah bibi
Josh dan terus memperhatikan jalan. Humvee ku yang
berada di urutan pertama pasti membuatku menjadi
sasaran empuk setiap guevara.
Namun tak urung suasana jalan yang lengang membuatku
terbayang kembali akan kondisi di rumah. Namun kali
ini tentang ……
“Russel..!!”, suara sersan Thompson memekakkan telinga
kananku, secara refleks aku pun menoleh.
“What’s…..?” tanyaku terputus.
“R..P..G…..!!”, segera saja kubanting setir kemudi
ke arah kanan, menepi dengan cepat. “Dhuar…!” suara
keras ledakan granat berpeluncur roket (kami
menyebutnya stinger atau RPG), menghantam sebuah truk
di belakangku. Supir truk asal kuwait itu terlalu
lamban untuk menghindar. Kendaraannya terhenti
seketika. Kap truk tersebut terbakar.
Tak sempat aku memikirkan tentang kondisi mereka,
humvee ini masih harus bergerak. Mengingat bisa jadi
masih banyak RPG susulan yang sewaktu-waktu bisa
menghapus harapan Bill Alex. Dengan cepat kupindah
posisi persneling ke gigi mundur lalu kubawa humveeku
ini menjauh. Dan benar saja, segera terpaut 7 detik
sebuah RPG lain menyusul menghantam tanah 10 meter
didepan kami.
Tak sempat kuperhatikan ada sebuah tong berwarna merah
di sisi kiri seberang jalan. Ketika tersadar, tong
tersebut sudah meledak keras di sisi kiri jalan.
Segera saja kaca pintu disebelahku semburat menghantam
sisi kiriku. Refleks kumenundukkan kepalaku, namun
agaknya sudah agak terlambat….. beberapa serpihan kaca
kulihat menancap lengan kananku.
Lantunan teriakan sersan untuk segera keluar adalah
suara terakhir di telingaku. Ketika kutoleh ke arah
beliau, sebuah peluru tampak langsung menembus lengan
kirinya. Entahlah, semua benar-benar seperti adegan
dalam film-film Hollywood selama ini. Semua berjalan
begitu lambat…. Begitu lambat, namun akhirnya tak
urung hanya gelap yang bisa kulihat. Tak lebih..!!
***
Aku terbangun di sebuah kamar, lumayan lebar, dengan
sebuh teralis dari aluminium tebal. Besi agaknya
terlalu berharga disini. Bagiku ini justru mirip
sebuah kamar hotel yang berfungsi sebagai penjara, dan
sepertinya memang begitu. Karena terdapat sebuah kamar
kecil pula di dalam sini. Hanya sebentar aku
terbangun, namun tak urung sakit di kepalaku dan lagi
dengungan di telinga akibat ledakan kemarin membuatku
tak urung harus tertidur lagi…
***
Mungkin aku tertawan disini sudah sekitar 2 hari,
Syukurlah, dengungan di telingaku sudah jauh
berkurang. Namun luka di kepalaku, membuatku banyak
tertidur, ketika terbangun sesekali terdengar suara
riuh, Jika aku berdiri untuk mengintip dari jendela
kecil, yang terlihat mereka tampak berdiri dalam
sebuah barisan rapat. Sempat kupikir mereka berlatih
baris berbaris ala militer, namun lantas aku ingat,
bahwa itu mungkinlah sholat, seperti yang sering
diselorohkan Hayes sebagai “ibadah jungkir balik”.
Tak kusangka mereka memperlakukan ku dengan baik
disini. Baik dari makanan, minuman, kamar kecil,
bahkan hal yang paling membuatku terkesan, mereka
mencucikan bajuku…!! Berbeda jauh jika rekan-rekanku
menangkap beberapa guevara. Sebuah pukulan di kepala
dan perut, itu hanya hal yang paling minimal. Namun
tak kusangka, tak sekalipun mereka memukulku. Luka
yang ada dikepalaku dan sebagian kecil di tanganku,
adalah akibat ledakan terakhir kemarin.
Suasana bosan mulai menjalar dalam darahku, kucoba
untuk berkomunikasi pada salah seorang disitu. “Apa
sih ibadah yang kalian lakukan, yang sambil begini
begitu..??”, tanyaku pada penjaga suatu hari sambil
menirukan beberapa gerakan mereka.
Namun dia tampak kebingungan, dia hanya mengigau tak
karuan, lalu aku sadar bahwa orang ini bisu. Dan
lagipula aku rasa ia pun tak paham akan bahasa
inggris. Aku pun hanya menunjuknya, sambil berkata,
“Your Commander..!!”. agaknya ia mengerti dengan
ucapanku kali ini, ia pun ngeloyor pergi.
Seperempat jam kemudian, seseorang berkemeja hitam
datang. Tak kusangka ternyata ia jauh dari kesan
sangar dari seorang warga irak. Dan memang kurasakan
benar sebuah aura kepemimpinan terpancar dari dirinya.
Ia mengambil kursi, lima meter di depan teralisku.
“Apa sih ibadah yang kalian lakukan, yang sambil
begini begitu..??”, tanyaku sama pada orang tersebut.
“Itu sholat, salah satu kewajiban kami dalam islam,
hal mendasar yang membedakan kami dengan orang seperti
kalian. Jawabnya singkat. Orang itu mengambil sesuatu
dari saku kemeja hitamnya. Dia mengambil sebuah foto.
“Apakah mereka keluargamu..??”, Ia menyodorkan foto
tersebut kepadaku.
Aku mengernyitkan keningku, kuraih dari tangannya foto
tersebut lalu kupandangi sejenak. Tak lama kemudian
aku sadar siapa yang ada dalam foto tersebut. Joanna
dan peter..!! kontan aku berteriak, “Alex, apa kalian
membunuhnya..!! kalian pembunuh..!! Guevara
Keparat..!!!”
Pria itu tak banyak berkata, ia menunggu emosiku agak
reda dahulu.
“Entahlah, kami juga tidak tahu apakah ia tewas atau
tidak, kami menemukannya bersama sebuah senapan M4A1
pasukan kalian”, dia bangkit dari duduknya dan
melanjutkan, ”tapi kami rasa mungkin dia tewas karena
disekitarnya ada lumayan banyak darah. Dari satu
konvoi kalian, hanya kamu yang tertinggal dan kami
membawamu kesini” Jawabnya seolah tanpa ekspresi.
Jawaban seperti itu kontan membuat darahku naik,
“Kalian tidak tahu betapa sebenarnya dia sudah
betul-betul mengharap kepulangannya..!!! Kalian
tahu..??” aku mengambil nafas sejenak, “Dia sahabatku
satu-satunya, foto itu adalah keluarga dia di US, dan
kalian telah membunuh satu-satunya tumpuan keluarga
mereka..!!!”
“Oh ya…??? Ada lagi sebelum aku menjawab
pertanyaanmu..??” tukas pria itu singkat. Seolah ia
tak merasa bersalah sedikitpun.
“Kalian tidak tahu bagaimana Alex sangat mencintai
keluarganya, dan bagaimana ia sangat merindukan
keluarganya..!! dalam bulan ini kami seharusnya sudah
pulang, namun kalian betul-betul sudah menghancurkan
impian dia untuk pulang ke keluarganya..!!” kataku
setengah berteriak. Ini membuat penjaga bisu tadi
tampak setengah ketakutan. Melihat itu, dalam hati aku
tersenyum agak puas.
“Itulah perang kawanku, “ Ia masih tetap tenang.
“Kalian hanya kehilangan satu dan kau sudah berteriak
seperti itu…???” jawabnya agak sinis.
“kalian tahu berapa sih keluarga kami disini, berapa
sih penduduk disini, atau bahkan berapa rumah sakit,
dan sekolah, yang didalamnya masih terdapat anak-anak,
orang tua dan mereka yang tidak layak perang, kalian
bunuh dan hancurkan…???”
aku tercenung mendengar jawabannya.
“Maaf, dalam perang, kami paling punya etika. Kami
hanya menyerang tentara dan orang-orang yang
berpotensi kesana. Kami tidak menangkap apalagi
membunuh wanita2 kami yang lemah seperti yang kalian
lakukan selama ini..!!” jawabnya tegas.
“Mohon direnungkan..!!”, ia beranjak bangkit dari
kursinya. Aku tak bisa menjawab kata-katanya. Mulutku
seolah tercekat kuat.
Ketika aku sadar ia hendak pergi, segera kucegat dia
dengan sebuah pertanyaan.“Oh ya, satu pertanyaan
terakhir, kenapa kalian tidak membunuhku, kenapa
kalian justru menawanku disini..??, bukankah aku juga
termasuk orang yang ikut dalam membunuh keluarga
kalian..??” tanyaku sambil bersikap seolah menantang.
“Anda terlalu berharga, kami ingin menukar saudara
dengan beberapa wanita dan anak-anak kami yang ditawan
di penjara Anda.”, jawabnya sopan. Ia pun berlalu
sambil memberi isyarat pada penjaga bisu disebelahnya.
Dan hari-hari selanjutnya, komandan yang tak pernah
mau menyebut namanya ini selalu menyempatkan waktunya
untuk mengunjungiku. Kesempatan ini tak kusia-siakan.
Aku pun menanyakan banyak hal kepada dia, dari hal-hal
kecil seperti bagaimana keluarganya, sampai hal-hal
tentang prinsip orang tersebut. Ternyata dia seorang
muslim yang taat, aku pun banyak bertanya kepadanya
tentang hal-hal Keislaman.
“Ketika kalian berperang untuk menang, maka berbeda
dengan kami…!!”, katanya suatu hari. Aku mengernyitkan
dahiku tanda tak mengerti.
“Ketika kami memutuskan untuk berperang, hanya satu
kata yang ada, yaitu Menang. Tak peduli apapun hasil
kami di peperangan itu. Kemenangan hanya bisa dibagi
menjadi 2 kata, menang atau mati syahid, sebuah
kematian yang mulia dalam Islam.” Jawaban ini otomatis
menjawab pertanyaan dalam hatiku selama ini, bagaimana
bisa sih sebuah pasukan kecil, tidak ada apa-apanya
berani menentang kekuatan sedemikian besarnya seperti
Amerika…?? Namun ini tak banyak membuatku terkesan.
Sampai suatu hari, dia bertanya kepadaku, “Pernahkah
Anda berpikir, untuk apa kita diciptakan, hidup di
dunia ini..???, mungkin suatu waktu, Anda harus
merenung tentang tiga pertanyaan kehidupan.
“Apa itu..??” tanyaku antusias.
“satu, Siapa yang menciptakanmu, Dua, Untuk apa kau
diciptakan dan hidup didunia ini, dan terakhir, Akan
kemana, kau setelah matimu.”, jawabnya.
Aku pun hanya manggut-manggut, memang juga sih aku
belum pernah disodori pertanyaan seperti itu. Tapi
agaknya waktuku di hotel penjara ini pun harus segera
berakhir. Aku tak bisa banyak merenung disini, “Besok,
kamu akan ditukarkan..!!” tukas pria yang biasanya
kutemui.
“Kita akan jarang bertemu lagi..!!” kataku.
“Dan mungkin kita pun akan saling bertempur lagi…!”
tukasnya sambil tersenyum simpul. Aku hanya tersenyum
kecut.
***
Keesokan paginya, mereka membawaku keluar, mataku
ditutup dengan kain gelap, dan aku dinaikkan dalam
sebuah mobil.. Aku dibawa berputar-putar dulu supaya
aku tak tahu dimana saja aku sekarang berada.
Sesampainya di sebuah jalan di mana kanan dan kiriku
hanya gurun kering kecoklatan, aku diserahkan ke
seorang pria berseragam Airborne. Seorang sersan
rupanya.
Dalam perjalanan, aku tak banyak berkata. Di markas,
pihak intelijen militerpun sempat menginterogasiku
semalaman. Mereka bertanya macam-macam, dari apa saja
yang aku katakan pada guevara, maupun hal-hal lainnya.
Dan lagi-lagi memang tak banyak yang bisa kuceritakan
karena memang jujur tak banyak yang kuketahui selain
apa yang mereka katakan tentang Islam. Agaknya para
intel-intel militer itu tidak seberapa puas. Namun mau
apa lagi, mereka pun tak urung menerima juga. Meski
tak lama kemudian, entah aku seperti merasa diawasi.
Karena luka dikepalaku, ditambah lagi aku belum
diperbolehkan banyak bergerak, maka tak urung aku pun
diperintahkan untuk pulang kembali ke US. Setelah
prosesi penyerahan medali kehormatan atas luka yang
diperoleh beberapa diantara kami, termasuk sersan
thompson dan Alex yang ternyata masih hidup,
keberangkatan kami pun dimulai. Sempat kupandangi
sebentar USS Enterprise ini, Tak kusangka, besar juga
sebuah mesin perang kebanggan Amerika.
Di kapal ini, aku disarankan untuk lebih banyak
beristirahat. Aku ditempatkan di ruang medis dan
perawatan. Agaknya luka dikepalaku, memang butuh
perawatan, karena sesekali aku masih merasa sakit
dipelipis kananku. Sambil berbaring, di ruang sempit
ini, aku pun banyak merenung. Merenung apapun atas apa
yang kulakukan selama ini. Sesekali terbayang gambaran
bibi Josh, namun agaknya ucapan-ucapan dari komandan
guevara itu yang banyak kurenungi. Waktu beberapa hari
di atas kapal ini membuatku semakin gundah… aku ingin
segera tahu jawaban dari tiga pertanyaan kehidupan
itu.
Sesekali ketika sudah malam hari, aku keatas dek untuk
terkadang merenung sekali lagi. Suara dengungan
pesawat yang berlatih dimalam hari, tak banyak
kuhiraukan. Aku hanya merapatkan jaketku sambil
memandang langit. Dokter bagian medis memang memberiku
ijin untuk itu, dan ini membuatku semakin senang. Aku
terus memikir, apa sih tiga pertanyaan kehidupan
itu..???
***
Lima bulan kemudian…..
***
Kupandang istriku di sisi mobilku, dia sedang tertidur
sambil tersenyum kearahku. Dalam hati, aku berkata,
cantik juga istriku ini. Sebuah buku karangan al qarny
ada dipangkuannya. Ia mengenakan gamis putih dipadu
dengan jilbab birunya. Ya, aku sekarang adalah seorang
muslim, diantara muslim-muslim di Amerika lainnya, Aku
menikah baru sebulan yang lalu, ia orang Amerika
keturunan bosnia. Tak kusangka perenungan di USS
Enterprise membawa sebuah cahaya tersendiri bagiku.
Seminggu setelah kepulanganku aku memutuskan keluar
dari kemiliteran. Dan beberapa hari setelahnya, aku
pun mencari sebuah Islamic center terdekat. Tak sulit
menemukan hal itu di san Fransisco, karena sejak
peristiwa 9/11 kemarin, tempat itu menjadi begitu
terkenal. Akhirnya, aku sekarang sudah menemukan
sebuah kesejukan yang belum pernah kurasakan
sebelumnya. Sebuah cahaya, Sebuah matahari diantara
gelapnya qalbu para awak enterprise yang lain.
Ingin rasanya aku pun juga bersegera untuk setidaknya
membantu mereingankan beban saudara-saudaraku di Irak
sana. Semakin kuingat-ingat kejadian dahulu, terkadang
semakin bertambah pula kebencianku kepada negeri ini.
“Suatu waktu, aku harus melakukan sesuatu pada negeri
ini, suatu waktu…. Dengan cara apapun… Harus..!!!”,
azzamku tegas. Oya, aku barankali tidak membenci
negeri ini, namun kebencianku adalah pada pemerintah
ini , beserta seluruh kebijakan luar negerinya yang
menurutku omong kosong belaka.
Suaraku agaknya membangunkan istriku, tapi dia hanya
menatapku singkat, aku balas tatapannya dengan mencoba
tersenyum. Namun tampaknya dia tak begitu peduli, dia
pun menutup matanya lagi dan terbuai dengan mimpi
indahnya.
Di luar jendela, agaknya senja sudah mulai mendekat.
Segera kupercepat laju mobilku. Di luar, hari sudah
menjelang gelap, namun selamanya tak akan kubiarkan
kegelapan sekali lagi menaungi hatiku. Dalam senja
kutemukan sebuah jawaban, Bahwa ternyata tiga
pertanyaan kehidupan adalah tidak untuk dijawab, namun
adalah untuk dipikir, dipahami, dan direnungkan…
Biarlah sebuah Super Carrier, Enetrprise, menjadi
saksi Buta atas bagaimana sebuah cahaya itu bermula
Juara I Lomba Menulis Cerpen se-Kota Malang
Forum Lingkar Pena Malang 2006′
(ha? cerpen asal gini jadi juara 1??)
