Sepasang Sepatu
Sepasang Sepatu..
Tak seperti biasanya, hari itu ada dua buah mobil berpelat L terparkir di depan masjid itu. Masjid Asy Syahiid, satu-satunya masjid jami’ di desa Glonggong.
Sebuah merek mobil jepang terbaca oleh Sunarto, seorang petani yang tinggal di depan masjid. Ia memang tak begitu paham akan mobil, tapi menurutnya mobil seperti itu, tentulah mahal. Bodynya yang mengkilat dan ukurannya yang lumayan tambun, menandakan itu bukan mobil-mobil yang biasa ditumpanginya ke pasar kota. Maklum, di desa Glonggong, ini satu-satunya yang punya mobil, hanyalah Pak Sony, seorang pedagang di pasar kota, dan itupun hanya sebuah pick up tua tahun 90an.
Tak banyak yang menumpang mobil itu, begitu menurut perkiraan Sunarno, yang ia hitung hanya ada sekitar 6 orang. Dan itupun kesemuanya laki-laki. Namun tunggu dulu, dari satu mobil, keluar dua orang wanita, berjilbab dan berbaju panjang, begitu yang ia lihat. Jadi total ada 8 orang yang ia hitung. Kedua wanita tadi ia lihat langsung ke atas, yang memang merupakan tempat buat ibu-ibu dan wanita..
Sunarno tak berani mendekat. Baginya, orang-orang asing itu seolah seperti orang-orang dari planet luar seperti yang sering dilihatnya di TV. Ia hanya melihat dari teras rumahnya. Waktu masih belum masuk Dhuhur, masih jam 10an siang, orang-orang itu terlihat beristirahat di depan masjid. Jam-jam segini, pintu masjid memang sering terkunci.
“Mereka siapa pak..??” seseorang menyapanya dari belakang. Istri Sunarno rupanya.
“Nggak tahu bu, orang kota sepertinya., bapak juga baru kali ini ngelihat mereka”, jawab Sunarno.
“Ya mbok coba dilihat kesono, kenalan atau apa lah..!!”
“Ibu aja deh.. biasanya sesama ibu-ibu kan bisa lebih akrab, tadi bapak lihat ada 2 orang yang naik ke atas.”
“Wis, bapak ini, disuruh istrinya, malah balik nyuruh, “ tukas istrinya sambil melengos kembali ke dalam rumah
***
Sudah jam 12 siang, dan dari menara masjid terdengar Sarto, muadzin masjid, mengumandangkan adzan dengan suaranya kecilnya. Sunarno, tak lekang lantas masuk, ia segera berwudhu, ganti baju, mengenakan sarung , lantas menyambar sajadah di kamarnya.
“Bu, bapak berangkat duluan ya..!!! jangan lupa ntar kunci pintunya..!!”, teriak sunarno sambil berangkat pergi.
Dilihatnya keenam orang tadi berada di tempat wudhu, 3 diantaranya masih berwudhu, sambil sementara sisanya masih menggunakan sandal jepit, antri. Sunarno segera beranjak masuk, sholat tahiyyatul masjid, lalu menunggu sang imam.
***
Sholat sudah selesai, namun dilihatnya keenam orang tadi masih belum keluar. Padahal setahu Sunarno, pintu dalam masjid akan dikunci beberapa saat lagi. Sunarno tidak terlalu peduli, ia pun segera beranjak pulang ke rumahnya.
Di gerbang masjid, sempat dilihatnya pak Haji Imron, imam masjid desa sempat bercakap-cakap sebentar dengan salah satu dari mereka. Sunarno tak tahu apa yang mereka bicarakan.
“Mereka siapa pak Haji..??” tanya sunarno pada Pak Haji, yang lewat depan rumahnya.
“Orang kota.” Jawab pak Haji pendek.
“Ngapain..??” tanya sunarno antusias
“Nggak, katanya mereka lagi mau bikin tower buat apaan tuh, HP di ujung desa kita. Katanya mereka sudah beli, dan mau lihat-lihat.” jelas Pak Haji.
“Ooohh..” sunarno hanya manggut-manggut. Ia memang boleh dibilang orang desa yang gaptek. Meski tahu apa yang namanya handphone, tapi seumur-umur dia belum pernah memegangnya langsung. Sunarno masih penasaran, namun ia masih terlalu takut dan malu untuk bicara pada orang-orang asing tersebut.
Sekali lagi ia hanya melihatnya dari jauh, melamun.
“Orang kota kok Pak, mereka cuman mau istilahnya apaan, survey kalo nggak salah, tanah milik Pak Mahmud di ujung desa itu, katanya mau bikin tower atau apaan lah istilahnya..”, suara istri Sunarno, membuyarkan lamunannya.
“Eh, oh iya”, jawab Sunarno setengah tergagap.”Tadi pak Haji juga bilang begitu, katanya tower buat handphone kalo nggak salah.”, Sunarno membenahi duduknya.
“Tadi aku sempat ngomong ma dua orang diatas tadi, mereka ternyata ibu ma anaknya. Yang anaknya masih muda loh pak, paling masih dua puluhan, tu istri salah satu dari orang-orang itu tuh..”, ujar istrinya sambil meletakkan segelas teh ke meja bapaknya.
“Ngobrol apa aja tadi bu..??” tanya Sunarno sambil menyeruput tehnya.
“Bukan Ibu yang ngobrol, tapi Bu haji, Ibu cuman nguping doang kok. he..he..he.., eh Ya, Sarmin mana Pak, biasanya jam segini tuh anak sudah pulang.”, Tanya istri Sunarno
“Biasa, paling ke rumahnya Aji, putranya Pak Sony, main PS disono”, tukas Sunarno tak acuh, baginya orang-orang kota itu, saat ini jauh lebih menarik daripada mengurusi Sarmin, putra semata wayangnya yang memang hobi dolan.
***
Sudah sejam lalu kedua mobil itu pergi. Meninggalkan debu-debu yang berterbangan didepan jalan Rumah Sunarno. Debu-debu dari jalan makadam yang kering. Debu-debu jalan akibat mobil tadi masih lekat dimata Sunarno, atau memang karena musim kemarau yang sudah tiba sebelum waktunya. Kondisi jalan desa yang masih berbatu-batu dan makadam yang membuatnya makin kering dan berdebu. Kemarau membuat rumput dan ilalang di sekitarnya kuning kecoklatan, menyisakan akar-akarnya yang masih hidup menunggu tetesan hujan.
Entahlah, kapan pula jalan didesanya akan diaspal. Tahun 2004 lalu, sempat terbersit kabar, jika ada satu partai yang menang dalam Pemilu di desanya, maka jalan desanya akan diaspal. Partai tersebut memang akhirnya menang, namun realisasi peng-aspalan jalan tak pernah terwujud. Dan warga desa perlahan melupakannya. Namun terbersit dalam hati Sunarno dan warga desa lain, mereka bertekad takkan memilih partai-partai semacam itu. Partai-partai yang biasanya hanya mengandalkan tokoh, dan bukan akhlak orang-orangnya.
Waktu sudah masuk Maghrib, dan satu demi satu warga kampung perlahan berduyun-duyun mendatangi satu-satunya masjid di kampungnya. Tak lupa beberapa anak kecil seusia Sarmin, berlari-lari membawa tas kecil, berkejar-kejaran, ya, dalam tas itu ada juz amma atau iqro’. Anak-anak seusia mereka biasanya akan ngaji selepas sholat maghrib hingga usai. Saat-saat dimana banyak anak kota justru melengos dan pergi menonton kartun kesayangan mereka, sponge bob, atau apalah, Sunarno juga kurang paham. Di desanya tak banyak channel TV yang tertangkap, ditambah lagi ia pun memang jarang nonton televisi.
***
Sholat maghrib telah usai, dan para jamaah pun sedikit demi sedikit mulai berlalu. Anak-anak kecil masih berkejar-kejaran di depan masjid hingga akhirnya salah satu dari mereka berteriak memanggil. Dan anak-anak kecil itupun bergegas masuk kedalam, mengaji. Dan seperti biasa, Sunarno menghabiskan waktunya diteras masjid. Entah ada saja yang ia lakukan. Terkadang mengamati anak-anak itu mengaji, sekedar melamun lepas, atau hanya ngobrol bersama pak Haji.
Kali ini Sunarno memilih melamun, ia mengeluarkan sebatang kretek lantas menyalakannya. Ia menoleh kesana-sini, coba mencari bahan lamunannya kali ini. Dan pandangannya pun langsung tertuju ke sudut utara masjid. Ada sesuatu menarik disana.. Tak seperti biasa, Sunarno melihat sepatu itu. Sebuah sepatu kulit warna coklat gelap mengkilap. Sepatu dengan tali yang tak lagi terikat rapi. Baginya sepatu itu terlihat asing. Sepatu yang umum di benak Sunarno hanyalah sepatu kets, dari kain dan terkadang dengan warna-warna yang enak di mata. Merah, biru, kuning, seperti yang biasa dikenakan Sarmin dan teman-temannya. Ditambah lagi, baginya sungguh aneh jika ada warga desanya yang bersepatu ke Masjid. Biasanya sebuah sandal jepit, atau sandal kayu yang lain sudah cukup untuk melalui jalan berdebu yang sering becek di musim hujan.
“Gimana sawahmu No..??”, pak Haji membuyarkan lamunannya.
Setengah terkejut sunarno menjawab, “Eh, Alhamdulillah pak Haji, insya Allah bulan depan mau panen.”, Sunarno menghisap rokokny dalam-dalam. “Kalau sawahnya Pak Haji..??”, Sunarno balik bertanya.
“Oh, ya begitulah, sejak diurus anakku itu, hasilnya jadi gila-gilaan. Kapan-kapan, kamu sama warga desa lain cobalah untuk belajar ke dia. Lumayan loh No, dulu kalau jagung, Aku cuman dapat 10 karung, tapi sejak anakku yang ngurus, eh, jadi 15 karung. Nggak tahu pakai ilmu apa anak itu, katanya belajar dari temannya yang kuliah di kota.” Jelas Pak Haji. Sunarno hanya manggut-manggut mengerti. Tapi Sunarno masih penasaran dengan sepatu tadi, ia ingin menanyakan sepatu itu, tapi Sunarno memang orang yang terlalu pemalu untuk bertanya.
Akhirnya, setengah memberanikan diri, Sunarno bertanya. “Eh Pak Haji, Pak Haji kalau ke Masjid pernah pakai sepatu nggak…??”
“Nggak tuh,” jawab Pak Haji setengah heran dengan pertanyaan Sunarno. “ emang kenapa No…??”
“Oh nggak, kirain sepatu itu punya Pak Haji “ tukas Sunarno sambil menunjuk sepatu coklat gelap mengkilat di ujung masjid.
“Oh itu, paling punya si Dadang, dia kan sekolah di kota,” jawab pak haji singkat.
“Ooohh..” Sunarno hanya manggut-manggut, dan rasa penasarannya pun terpenuhi. Sepatu itu tak lagi menarik bagi bahan lamunannya. Dia pun bangkit pulang pamit dulu ke Pak Haji. “Sebentar pak haji, saya masih ada urusan sama istri, saya pamit dulu Pak Haji..” Sunarno membuang rokoknya yang masih setengah hisapan, “Assalammu’alaikum..!!”
“Wa’alaikumsalam.. “, jawab Pak Haji.
***
Rasa penasaran Sunarno memang sudah terpenuhi. Namun dhuhur ini, agaknya rasa penasarannya mulai terusik. Sepatu itu datang lagi di Masjid. Hal yang aneh baginya. Jam segini tentulah si Dadang belum pulang dari sekolahnya di kota. Bahkan saat Ashar pun, belum tentu Si Dadang sudah pulang. Hal yang lebih mengganggunya lagi adalah, tak ada seseorang pun di masjid selain Sarto, si muadzin, dan dirinya.
Tapi kali ini bukan sepatu si Sarto, Sunarno hafal betul kalau Sarto selalu memakai sandal jepit warna merah. Selalu warna merah, sampai-sampai Sunarno sendiri heran, “Kamu nggak pernah ganti Sandal To..??:” tanyanya suatu hari,
“Ya ganti dong, pak, cuman saya memang selalu beli yang merah, habis… saya suka sih..!!”, begitulah jawab Sarto ringan. Hingga karena itu pun, Sarto dijuluki muadzin sandal abang. Bahkan pernah suatu waktu Sarto ini memilih untuk bertelanjang kaki ke masjid hanya gara-gara sandal merahnya tiba-tiba hilang. Dan Sunarno pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Sarto cuci kaki di halaman masjid.
Sunarno gundah, ia gelisah tak menentu. Sepatu itu masih tetap disitu. Teronggok mungil, seolah tak berdaya, tak terjamah oleh siapapun dari jamaah masjid tersebut. Barangkali berbeda dengan masjid-masjid di kota yang sering kehilangan sandal, atau sepatu semacam itu. Namun tidak untuk desa seukuran desa Sunarno ini.
Selepas dhuhur, sepatu itu masih disitu. Tetap seperti sebelumnya, di sudut utara masjid. Dekat tempat wudhu. Sama seperti hari-hari sebelumnya, agaknya tak ada yang memperdulikan sepatu itu kecuali Sunarno. Hal ini kontan menjadi semacam keasyikan yang membebani Sunarno. Sepatu itu seolah memanggil dirinya, menunggu untuk diambil atau disentuh. Namun Sunarno tetap tak berani menyentuhnya, mendekati saja ia tak berani. Semenarik apa pun sepatu itu, ia tetap hal asing bagi Sunarno.
Di rumahnya, di masjid, atau di sawah, sepatu itu, tetap terus membayangi benak Sunarno.
“Mikirin apa sih Pak, belakangan Bapak kok kelihatan aneh..??”, tanya istri Sunarno suatu waktu.
Buyar lamunan sunarno, ia tergagap, “Ah, eh nggak kok Bu,” Sunarno coba berkilah, namun ia tidak punya alasan.
“Apa masalah yang kemarin itu, orang kota yang mau bikin tower di desa kita..??”,
“Orang kota..”, oh ya, orang kota, Sunarno tiba-tiba ingat akan satu hal yang teralihkan hanya gara-gara sepatu itu.
“Bisa jadi, sepatu itu milik orang kota tadi…” demikian pikir Sunarno dalam hati.
Dan sekarang, hati Sunarno pun kembali tenang. Namun tak urung, ia masih bingung, kenapa pula sepatu itu sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Andaikan tidak sengaja tertinggal, tentulah tidak mungkin, karena apa mungkin si pemiliknya lupa kalau ia tidak beralas kaki..???, dan ditambah lagi bahwa ketika orang-orang kota itu berangkat, tidak ada orang lain di Masjid itu selain mereka. Adanya sepatu itu, tentu seharusnya kelihatan.
Bingung, dan Gundah sunarno yang mulai berkurang, namun rasa ingin tahunya kembali muncul. Ia pun memutuskan untuk membagi ceritanya. Namun ia tak ingin sembarangan, maka ia pun memutuskan untuk memberitahu hal ini pada satu-satunya orang yang berbicara langsung dengan orang kota itu. Barangkali saja ia tahu.
***
“…Begitulah pak Haji.” Sunarno mengakhiri ceritanya. Sarto
“Jadi menurutmu, kedua sepatu itu milik orang kota kemarin itu….??, bukan milik si Dadang..??”, tanya Pak Haji.
“Betul Pak haji, siapa lagi kalau bukan mereka..??” Sunarno menyimpulkan.
“Ya, udah terus masalahnya gimana kita mengembalikannya. Bukannya begitu..??”, tanya Pak Haji memperjelas.
“Eh, oh, iya… betul pak haji..!!, barangkali aja Pak Haji tahu, kan kemarin sempat ngobrol sama mereka..??” jawab Sunarno setengah tergugup. Ia setuju dengan usul pak Haji, namun dalam hati ia sayang juga. Sepatu itu telah menemani lamunannya dalam beberapa pekan belakangan.
***
Maka jadilah sepatu kota itu, kini mendapat perhatian lebih bagi orang-orang jamaah masjid. Jika sebelumnya jamaah bersikap tak acuh terhadapa sepatu itu, kini mereka bertanya-tanya, siapa, dan kenapa, sepatu itu ditinggalkan di masjid oleh pemiliknya.
Pak Mahmud, pemilik tanah yang tanahnya mau dibeli orang kota kemarin tak bisa dihubungi. Pak Mahmud memang juga orang kota, dan terlebih lagi, ia tinggal di Jakarta. Sehari semalam perjalanan dari desa ini. Tanah itu hanya tanah miliknya, dan memang tidak ditempati. Oleh pak Mahmud, tanah itu dititipkan pada mbah Mo, seorang duda tanpa anak, untuk diurus dan ditanami. Namun mbah Mo juga tak tahu bagaimana menghubungi Pak Mahmud, karena hanya setahun sekali Pak Mahmud menjenguk tanahnya.
Dan sepatu itupun semakin menjadi pembicaraan sengit. Pak Haji, Sarto, dan Sunarno pun sering menanyakan pada warga, barangkali ada yang kenal dengan orang-orang kota kemarin. Namun hasilnya nihil. Tak banyak yang tahu tentang orang-orang misterius kemarin. Sepatu dan orang kota kemarin mau tak mau telah menjadi kehebohan tersendiri di desa Glonggong.
Pak Haji akhirnya memutuskan, untuk meletakkan sepatu itu, di dekat kotak amal masjid. Namun dengan tambahan sebuah tulisan didekatnya. “Dicari, pemilik Sepatu ini, orang kota yang mampir di Masjid ini pada awal Mei 2006”
Sepatu itu semakin santer, bahkan mengalahkan isu pilkades di desa Sunarno. Ia jadi pembicaraan entah di sawah, di warung kopi, bahkan di pasar desa Glonggong. Namun tak urung, seperti halnya kabar-kabar lain, perlahan tapi pasti kabar tetang sepatu kota ini pun perlahan mulai berkurang. Tak seperti sebelumnya, warga pun mulai lupa dan larut dengan kesibukannya masing-masing.
Tapi hal itu tak berlaku bagi seorang Sunarno. Baginya, sepatu itu tetap asing, dan setiap hal asing selalu menarik perhatiannya, sampai kapanpun!!
***
Sudah hampir dua bulan sejak sepatu itu datang di desa Glonggong. Dan maghrib itu, seperti biasa, selepas sholat berjamaah, Sunarno duduk-duduk di teras masjid bersama Pak haji dan si Sarto muadzin masjid. Sepatu itu tetap masih teronggok disudut masjid. Tidak seberapa mengkilat seperti dulu ketika sepatu tersebut menimbulkan kebingungan sunarno. Tetap masih seperti yang dulu hanya agak sedikit berdebu. Dan sekarang dengan sebuah tulisan kecil, “Dicari, pemilik Sepatu ini, orang kota yang mampir di Masjid ini pada awal Mei 2006”. Sunarno hanya tersenyum. Bukan oleh tulisan itu, melainkan oleh kehebohan yang sempat ditimbulkan sepatu itu di desanya.
Sunarno menghisap kreteknya dalam-dalam. Di sebelahnya Pak haji tengah ngobrol dengan Sarto. Sunarno tak banyak ambil peduli, ia memang jarang berinteraksi dengan orang lain. Baginya, diam adalah hobinya. Pandangan Sunarno lepas lagi ke jalan makadam desa itu.
Namun tiba-tiba, pandangan Sunarno segera teralihkan pada sekerumunan anak kecil di sudut masjid. Mereka anak-anak yang seharusnya mengaji, tapi si Dadang, guru mengaji mereka belum lagi datang. Sunarno belum lagi sadar dari lamunannya ketika sepintas seorang anak tampak memegang sebuah benda hitam ditangannya. Dalam sekejap pikiran Sunarno kembali utuh. Sesuatu mengusik kesadarannya… Spontan ia bangkit berdiri, dan berteriak, “Hoi, nak, Jangan buat main-main..!!, itu sepatu mahal..!!”, bentak Sunarno pada anak-anak
Anak-anak yang sejak tadi mengerumuni sepatu itu, kontan semburat lari semuanya. Terkejut, takut, dengan suara keras sunarno. Sepatu dari salah seorang anak, kontan terjatuh. Pak Haji yang sedang ngobrol dengan sarto pun tak urung menoleh kaget ke arah datangnya teriakan tadi. Sarto bangkit dari duduknya ingin tahu. Pak Haji hanya diam mengamati.
Sunarno menghampiri, setengah gemetar ia memungut sepatu itu. Ini pertama kalinya ia memegang sepatu asing tersebut. Namun… Hei, tunggu dulu..!! ada apa itu..???
Sunarno melihat secarik kertas tersembul dari dalam sepatu. Penasaran ia memungut kertas itu.
Setengah berdebar, ia perlahan membuka dan membaca isinya.
“Apa No, isinya..??”, tanya Pak Haji.
Sunarno hanya diam, ia pun menyerahkan secarik kertas itu pada Pak Haji.
Assalammu’alaikum. Wr. Wb.
Pak, kami mohonmaaf, karena 3 dari sandal jepit yang ada di masjid ini, putus gara-gara kaki saya yang memang kelewat besar
Kami sebenarnya ingin menggantinya dengan uang, namun sayangnya tidak ada dari kami yang sedang membawa uang tunai.apalagi kami juga sangat terburu-buru sehingga tidak sempat untuk mampir minta maaf, atau memberitahu.
Sebagai gantinya, semoga sepatu ini bermanfaat dengan harapan ada dari warga yangmau membeli sepatu ini, agar uangnya bisa dibelikan sandal jepit baru lagi.atau apa sajalah
Terimakasih, maaf sebelumnya
Wassalammu’alaikum wr. Wb.
“Orang kota yang aneh, ternyata masih ada ya, orang yang bertanggung jawab seperti mereka.”, gumam Pak Haji pelan., “Gimana Narno, kamu mau beli sepatu ini..??”, tanya pak Haji pada Sunarno.
Sunarno hanya mengangguk pelan, dalam hati ia tersenyum.
Malang, Juli 2006
Juara I Lomba Menulis Cerpen,
PENSIMABA
Pekan Seni Mahasiswa Baru 2006
FMIPA Universitas Brawijaya
(gara2 yang setor cerpen cuman 3 hehehe)
