Kembalikan Sahid Kepadaku!!! (bagian 3 – habis)

Kau, Kau, lalu AKU!!

***

Tertunduk aku di sebuah sudut senja yang manja, ada butir-butir sesak di dada, lalu benih-benih rindu yang kemudian menyeruak. Kerinduan tentang masa laluku, masa lalumu, masa lalu kita, dan masa-masa lalu siapapun.

Beberapa hari aku mengasingkan diri, dalam gua di rimba peradaban. Mencoba menggali-menggali dan terus menggali kembali harta karun yang telah sekian lama terkubur aktifitas luar biasa sibuknya. Hidup seolah sudah terasa layaknya mesin. Yang terus saja berputar meski tiada daya yang mendukungnya. Dan kini ia butuh sejenak berhenti.

Hingga sore itu pun aku terpaku, di sisi masjid megah namun lengang dari orang berjamaah. Ada suara-suara yang bergetar, ada suara-suara terisak. Desah nafas yang berat beserta wajah tertunduk. Mata sembab namun tiada sempat setetes pun tuk luruh turun basahi alur-alurnya.

Lalu tiba-tiba tangis itu pecah. Tak terdengar telinga manusia, namun hati siapapun yang peka, pastilah kan menutup telinga hatinya. Tak sekedar tangisan, namun juga jeritan, teriakan, layaknya yel-yel tanpa irama. Tanpa terasa, mata mulai lebih lembab dari biasanya. Nafas berat pun terulur naik. Ingin aku luapkan dalam denyut-denyut tangisan nyata, namun tak kunjung bisa. Entah kenapa, jiwa sedari tadi menangis, namun ada sebuah sekat membuntu antara jiwa dan air mata. Maka Sungguh, benteng kokoh itu kini telah tergetar.

Bukan karena musuh yang menyerang, namun karena aktifitasnya, karena suasananya yang memang tak lagi layak kita sebut sebagai benteng. Tak ada kenyamanan, tak ada keamanan, tak ada privacy.

Perenungan adalah sebuah telaga kekuatan bagi ku. Kekuatannya dahsyat bagai nuklir, karena memang itulah kekuatan inti bagi jiwaku. Ketika goyah, maka penjara pengasingan menjadi tempat perenungan yang mengasyikkan. Bukankah orang-orang besar dahulu melahirkan karya-karya besarnya dalam pengasingan?

Merenung.. Menangis..
Merenung.. Air Mata..
Isak tangis.. Merenung..

Bagai menyaksikan seluruh episode kehidupanku, kutatap lekat video dokumentasi itu. Tiba tiba aku seolah menemukan diriku kembali. dan tiba-tiba saja, layaknya kaset handycam yang jenuh merekam, semua-nya ter-reset ke titik nol.
Semangat itu kembali
Ruh itu Hidup Lagi..!!

***

Aku masih punya mimpi!
tentang negeri ini!
dan semesta
maka ijinkan AKU
HARI INI untuk KEMBALI!
untuk melanjutkan karya kita
MIPA,Indonesia,dan dunia!

***
Ada sebuah bingkai besar menunggu untuk kita lukisi dengan kuasan-kuasan pena kita. Untuk kita lukis dengan sejarah cerdas cerah nan bercahaya. Sejarah bernama peradaban madani.

Kita tak akan takut karena terik cahaya kan buat warnanya pudar, atau atap bocor rumah kita dikala hujan kan lunturkan warnanya. Karena kita melukisnya dengan warna-warni jiwa, yang tak kan lapuk dan tak kan lekang meski ribuan senjata terkokang mengacung kepadanya. Dengan tegar ia kan berkata! ”Aku hanya merindu Surga”.

Kami tahu bahwa kemarin telah tiada, bahwa masa tak bisa diputar sesuai kehendak kita. Hanya hari ini yang tersisa, untuk kita isi, gunakan, manfaatkan, lalu persiapkan untuk keesokan hari.

Dan biarkan arus masa yang deras menentukan dimana hilir kita. Akan kemana kita akan bermuara. aku hanya bisa mengayuh menyusuri aliran arus agar tak hempas karena batu, tak tumpah karena ceruk, ataupun tak berhenti karena telah sampai muara samudera

Ia tetap bergerak, meski yang lain diam. Dalam bentuk arus atau sekedar uap siklus, ia tetap bergerak. Adakalanya ketika cukup, jadilah riak itu menjadi gelombang. Gelombang yang menggerakkan, menggetarkan, dan menghempas kedzaliman.

Kini Ia Siap,

Saudaraku…
Maaf membuatmu menanti
Kini Aku Sudah Kembali…

Malang, 11 September 2008 – 05:34 pagi hari
Sahid REFURBISHED
seperti yang kau kenal dulu
Insya Allah..

~ oleh fixline pada September 11, 2008.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.