Kembalikan Sahid kepadaku!! (bagian 2)
Ingatkah kau ketika jauh kau sebelum itu, kau tak lebih dari seorang pemuda lugu. Kau baik hati, tapi kau tak punya nyali. Ketika ditantang berkelahi, kau justru lebih banyak mundur. ”Saya tak mau kekerasan”, begitu caramu tutupi jiwamu yang pengecut kala itu.
Masa remaja-mu dahulu, Tanpa jiwa tanpa ruh kau bergerak. Seolah kau akan hidup selamanya, kau lupa pada akhiratmu, pada siapa penciptamu, pada siapa tuhanmu, ah bahkan kau pun mungkin lupa bahwa kelak kau akan mati? Kau boleh jadi pintar, cerdas, punya teman yang baik dan sholeh, tapi kau tak ubahnya seekor bebek. Ketika kau sendiri? Ah…
Dahulu ketika ibu-mu menyuruhmu untuk Sholat Fardhu, kau hanya berkata nanti-nanti, dan nanti. Tanpa ada sebait wujud nyata, dan tiba-tiba waktu itu sudah habis, dan tanpa penyesalan kau pun pergi bermain, sembunyi-sembunyi menghabiskan uang untuk Playstation. ke temanmu nonton VCD, atau entah kemana.
Hingga ingatkah kau ketika sebaris kalimat mendobrak benteng jahiliahmu? Membabat habis rasa malas-mu selama ini. Runtuh, jatuh, terbakar, dan berkobar. Lalu kau dapati kau kini ditengah reruntuhan.
Diantara puing-puing itu kau bertekad untuk berubah. Ya, itulah sebaris kalimat untukmu dari seseorang yang tak kau kenal. Dan itulah kunci titik balik kehidupanmu. Tiba-tiba kau menjadi sangat benci pada jahiliah. Tiba-tiba kau ingin untuk berubah. Tiba-tiba saja kau tinggalkan panggung teater masa lalumu, berpindah dari alam drama ke alam nyata. Lalu, inilah kau membangun istana diatas padang reruntuhan kejahiliahan.
Lalu di jenjang berikutnya kau pun memang benar-benar berubah. Kembalilah ia kepada fitrah yang bersih, yang suci, yang tenang. Kau tak lagi bergemuruh keruh, layaknya tsunami yang kau saksikan di Televisi.
Tak lama, datanglah tangan-tangan luar biasa itu menyentuhmu, membuat dirimu kian berarti. Dari seorang pemuda yang penakut, menjadi sosok pemberani. Dari seorang tak berkarakter kini mulai berbentuk, spesial. Maka menularlah ke-luar biasa-annya kepadamu.
Dan Umar baru itu pun lahir..
Sahabat, masih ingatkah kau?
Sahabat..??
***
Malang, 11 September 2008 – 00.57 pagi
Dulu kau tak lebih sebongkah batu tak berbentuk
Lalu datanglah tangan-tangan hidayah menyentuhmu
Mencetakmu tuk jadikan pualam berkilau
Lalu datanglah tangan-tangan para arsitek dakwah
Menyusunmu tuk hiasi di dinding istana- nya
Tuk jadikan ia megah, bersama pualam di sekitarmu.
Lalu seiring jaman,angin, debu, dan badai
Secorak pualam itu kini kusam berdebu
Ijinkanku, tuk kembalikan kemilaunya
Agar ia layak bersanding bersama kemilaumu
Hiasi istana dakwah kita bersama
Ijinkanku sejenak berhenti, bersihkan pualam itu
